Senin, 29 Agustus 2011

Kajian ‘Illat dalam Analisis Matan Hadis


1.    Pengetian ‘Illat dan Contohnya
‘Illat adalah sifat-sifat buruk yang menciderai keshahihan suatu hadis. Cacat yang tersembunyi tersebut dapat terjadi pada sanad, matan ataupun juga pada keduanya. Dari ketiga faktor tersebut, aspek sanad yang paling banyak menjadi penyebab adanya cacat hadis ini. Ibn Hajar menyebut jenis hadis ini sebagai jenis hadis yang paling rumit dan hanya orang yang mendapatkan karunia pengetahuan yang luas dan mendalam dari Allah yang bisa memahaminya. Hal tersebut karena untuk menemukan ‘illat (cacat) yang terkandung dalam hadis ini membutuhkan pengetahuan yang luas dan ingatan yang kuat tentang sanad, matan, urutan dan derajat periwayat hadis.  Contoh:
ما رواه يعلى بن عبيد عن سفيان الثورى عن عمر بن دينار عن ابن عمر, قال  رسول الله ص م: البيعان بالخيار مالم يتفرقا
Matan hadis di atas shahih, tetapi sanadnya memiliki ‘illat. Seharusnya bukan dari Amr bin Dinar , melainkan dari Abdullah bin Dinar.
Secara khusus ilmu untuk mempelajari ‘illat ini adalah Ilmu ‘ilal al-hadis yaitu ilmu yang meneliti sebab-sebab yang samar tersembunyi yang menodai atau membuat cacat suatu hadis, seperti; menyambung sanad yang sebenarnya munqathi‘ (terputus hanya sampai tabi‘in), menaikkan atau mengangkat hadis mawquf  (hadis yang hanya sanadnya hanya sampai sahabat), menyisipkan satu hadis kepada hadis yang lain, meruwetkan sanad dengan matan, dan lain sebagainya.
Ilmu ini terkenal sulit, karena harus meneliti hadis itu muttasil atau tidak, setiap periwayatnya bertemu langsung dan mendapatkan hadis langsung dari guru-gurunya. Semua ini akan sulit, jika dilakukan oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan yang mencukupi tentang biografi para periwayat, jalur sanad-sanad lain yang dijadikan bahan perbandingan, atau tidak mempunyai banyak hafalan tentang matan. Beberapa ulama yang terkenal ahli dalam ilmu ini adalah Ibn al-Madini, Ahmad, al-Bukhari, Ya’qub bin Abu Shaybah, Abu Hatim, Abu Zur‘ah, al-Tirmidzi, dan al-Daruqutni.
‘Illat hadis sendiri dengan melihat tempatnya bisa ditemukan pada sanad, matan, atau pada keduanya.
a.    ‘Illat pada sanad, tidak hanya cacat pada sanadnya juga bisa merembet pada matannya. ‘Illat pada sanad yang berpengaruh terhadap sanad saja, bisa diketahui bila dibandingkan dengan hadis yang sama dengan jalur riwayat lain dan sanad yang shahih, seperti:
البيعان بالخيار مالم يتفرقا




Jika hadis tersebut diriwayatkan oleh Ya’la bin ‘Ubaid dari Sufyan al-Thawri dari ‘Amr bin bin Dinar dari Ibn ‘Umar dari Rasulullah saw, maka sanad hadis ini dianggap mempunyai ‘illat (cacat) karena menyandarkan periwayatannya kepada ‘Amr bin Dinar  (padahal sebenarnya disandarkan pada Abdullah bin Dinar), sekalipun sanadnya muttasil  dan periwayatnya tsiqah.
Hal ini diketahui ketika sanad hadis di atas dibandingkan dengan jalur sanad yang lain yaitu; diriwayatkan oleh Abu Nu’aym, Muhammad bin Yusuf dan Mahlad bin Yazid dari Sufyan al-Thawri dari Abd Allah bin Dinar dari Ibn ‘Umar dari Rasulullah saw. Sekalipun sanad Ya‘la ber‘illat, namun matannya shahih karena sama dengan matan hadis yang diriwayatkan oleh tiga periwayat yang lain.
Sedangkan contoh ‘illat pada sanad yang membuat cacat pada sanad sekaligus pada matan adalah seperti:
من جلس مجلسا فكثر فيه لغطه فقال قبل أن يقوم: سبحانك اللهم وبحمدك لاإله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك غفر ماكان في مجلسه ذلك






Al-Hakim al-Naysaburi menceritakan bahwa Imam Muslim pernah menanyakan kepada Imam Bukhari tentang; hadis Musa bin ‘Uqbah yang melalui jalur sanad Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya (Abu Suhail) dari Abu Hurairah ra dari Nabi Muhammad saw, lalu Imam Bukhari menjawab bahwa hadis tersebut adalah baik dan beliau menyatakan belum pernah mengetahui hadis sebaik ini dalam masalah kaffarah al-majlis, hanya saja hadis itu memiliki ‘illat. Hadis tersebut bukanlah hadis marfu‘ sebagaimana dikatakan oleh Musa bin ‘Uqbah, tetapi adalah hadis mawquf  karena  hadis tersebut adalah perkataan ‘Awf bin Abdullah. Namun demikian hadis itu masih lebih baik dari hadis yang diriwayatkan oleh Musa bin ‘Uqbah, karena di dalamnya tidak disebut adanya Musa bin ‘Uqbah mendengar dari Suhail.
b.    ‘Illat pada matan, tidak sebanyak ‘illat pada sanad. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibrahim bin Tuhman
إذا استيقظ أحدكم من منامه فليغسل كفيه ثلاث مرات قبل أن يجعلهما في الإناء فإنه لايدري أين باتت يده
“Apabila seseorang dari kamu bangun dari tidur, cucilah kedua telapak tangannya 3 kali sebelum dimasukkannya ke tempat air wudu’. Sebab ia tidak mengetahui ke mana tangannya semalam.”
ثم ليغترف بيمينه من إناءه ليصب على شماله مقعدته
Kemudian hendaklah menciduk dengan tangan kanannya untuk dituang ke tangan kirinya, sesudah itu lalu cucilah pantatnya








Hadis Ibrahim bin Tuhman yang melalui jalur sanad Hisyam bin Hisan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah ra dan yang bersanad Suhail bin Abu Shalih  dari Abu Shalih  dari Abu Hurairah ra dianggap mempunyai '‘illat pada matannya. Sebab menurut Abu Hatim al-Razi, kalimat “thumma liyaghtarifa…” sampai akhir adalah perkataan Ibrahim sendiri. Ia menyambung perkataan itu pada akhir matan hadis sehingga orang-orang tidak bisa membedakan apakah itu termasuk matan hadis sebenarnya ataukah tambahan darinya. Hal ini diketahui setelah dibandingkan dengan matan hadis riwayat Bukhari dan Tirmidzi seperti di atas.
Perkataan seorang periwayat yang disisipkan pada suatu matan hadis disebut idraj. Apabila periwayat menjelaskan bahwa sisipan atau tambahan itu adalah untuk menjelaskan matan hadis, maka tidak termasuk ‘illat. Namun bila dimaksudkan sebagai matan, maka idraj tersebut termasuk ‘illat.
c.    ‘illat pada sanad dan matan, contohnya:
Hadis yang diriwayatkan oleh Baqiyyah bin al-Walid
من أدرك من صلاة الجمعة فقد أدرك
”Barang siapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Jumu‘ah maka berarti ia mendapatkan shalat  itu dengan sempurna.”    من أدرك من صلاة فقد أدرك
”Barang siapa mendapatkan satu rakaat dari suatu shalat  maka berarti ia mendapatkan shalat  itu dengan sempurna”

  




Menurut Abu Hatim al-Razi; di dalam jalur sanad Baqiyyah bin al-Walid terdapat kekeliruan, ia mengatakan bahwa al-Zuhri menerima hadis dari Salim dari Ibn Umar, padahal yang benar adalah dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ra. Hal ini diketahui setelah diadakan perbandingan dengan sanad-sanad yang lain seperti di atas.
Di samping mempunyai ‘illat pada sanadnya matan hadis Baqiyyah juga ber‘illat yaitu dengan adanya sisipan kata al-jumu‘ah yang tidak ada pada matan dari sanad yang lain. Sehingga hadis tersebut tidak shahih karena sanad dan matannya ma’lul (ber‘illat).
Macam-macam ‘Illat bila dilihat dari jenisnya bisa di bagi menjadi: 
a.    Me-muttasil-kan sanad hadis munqathi‘
b.    Me-marfu’-kan hadis mursal
c.    Meng-syadz-kan hadis yang mahfuz (keadaan hadis yang diriwayatkan dari seorang sahabat  yang sudah tertentu)
d.    Me-wahm-kan (menduga sahih)  sanad hadis yang mahfuz
e.    Meriwayatkan secara ‘an‘anah suatu hadis yang sanadnya telah digugurkan baik seorang atau beberapa orang, hal ini bisa dilakukan setelah diadakan perbandingan dengan hadis mahfuz
f.    Adanya ketidaksamaan sanad dengan peng-isnad-an periwayat lain yang lebih tsiqah
g.    Men-tadlis-shuyukh-kan hadis yang mahfuz (menyamarkan nama guru atau nama guru tidak sama dengan periwayat lain yang lebih tsiqah)
h.    Men-tadlis-isnad-kan hadis yang mahfuz (meriwayatkan suatu hadis yang tidak pernah didengar dari gurunya)
i.    Meng-isnad-kan secara wahm hadis yang sudah musnad (keadaan hadis sebenarnya telah mempunyai sanad tertentu, namun salah seorang periwayatnya meriwayatkannya dari sanad lain di luar sanad yang sudah tertentu berdasarkan dugaan (wahm)
j.    Me-mawquf-kan hadis marfu‘
2.    Cara Mengetahui ‘Illat dalam Matan Hadis
‘Illat dapat diketahui dengan cara mengumpulkan jalur-jalur hadis dan meneliti perbedaan periwayatnya, kekuatan ingatan dan kepintaran mereka (dlabit). Parameter yang dipergunakan dalam analisis syudzudz adalah dengan menggunakan dalil 'Aqli (rasio).
 

2 komentar:

  1. alhamdulillah membantu saya..syukran

    BalasHapus
  2. Semuanya Contoh Haditsnya Sama...
    adakah yang lain..

    BalasHapus