Senin, 29 Agustus 2011

Pengertian Hadis Nabawi


Ada beberapa istilah yang perlu diketahui yaitu Hadis, Sunnah, Atsar, dan Khabar. Jumhur ulama’ menyamakan arti hadis dan sunnah, dengan kata lain keduanya merupakan kata sinonim (muradif). Hanya saja istilah hadis lebih sering digunakan oleh ulama hadis. Sedangkan ulama ushul fiqh lebih banyak menggunakan istilah sunnah.  Nabi sendiri menamakan ucapannya dengan sebutan al-hadis, untuk membedakan antara ucapan yang berasal dari beliau sendiri dengan yang lain . Ketika itu Abu Hurairah datang ke Nabi menanyakan perihal “siapa orang yang paling bahagia tatkala menerima syafa’at kelak di hari kiamat”, sebagaimana hadis di bawah ini:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَال قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
Berikut ini uraian dari beberapa istilah di atas;
1.    Hadis
Kata hadis secara etimologi (bahasa) bisa diartikan sebagai:
a.    Jadid yang berarti baru, merupakan antonim dari kata qadim
b.    Qarib yang berarti dekat, diambil dari kalimat hadis al-ahdi bi al-Islam yang berarti orang yang baru masuk Islam.
c.    Khabar yang berarti warta atau berita
Sedangkan secara terminologis hadis adalah segala ucapan, perbuatan, ketetapan dan karakter nabi Muhammad saw setelah beliau diangkat menjadi Nabi.
2.    Sunnah
Adapun sunnah secara etimologiy adalah jalan yang dilalui baik yang tercela maupun yang terpuji . Sedangkan secara terminology, sunnah mempunyai pengertian yang berbeda-beda, karena ulama memberikan pengertian sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing .
a.    Menurut ulama ahli hadis, sunnah adalah: Semua hal yang berasal dari Nabi, baik yang berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun hal-hal yang lainya. Jadi menurut pengertian ini sunnah bisa meliputi fisik semisal tubuh, rambut, jenggot, maupun perilaku Nabi dalam kehidupan sehari-hari baik sebelum ataupun sesudah beliau diangkat jadi Rasul. Mereka memandang Nabi adalah sosok suri tauladan yang sempurna bagi umat Islam, sehingga dalam pandangan mereka segala sesuatu yang berasal dari Nabi; baik yang ada kaitanya dengan hukum maupun tidak adalah sunnah
b.    Sedangkan menurut ulama ushul fiqh adalah hampir sama, namun mereka membatasinya hanya dengan yang bisa dijadikan sebagai acuan pengambilan hukum. Hal ini disebabkan mereka memandang Nabi sebagai Syari’ (pembuat syariat) disamping Allah. Hanya saja ketika ulama ushul mengucapkan hadis secara mutlak maka yang dimaksud adalah sunnah qawliyah. Karena sunnah menurut mereka mempunyai arti yang lebih luas dari hadis, yaitu mencakup semua hal yang bisa dijadikan petunjuk hukum tidak hanya sebatas ucapan saja .
c.    Lain halnya dengan ulama fiqh, mereka mendefinisikan sunnah dengan suatu hal yang tingkatannya tidak sampai pada tingkatan wajib atau fardlu, artinya mendapatkan pahala bila dikerjakan namun tidak sampai mendapatkan dosa bila ditinggalkan. Mereka memandang Nabi saw sebagai pribadi yang seluruh perkataan dan perbuatannya mengandung hukum shara’.
d.    Dalam istilah teologi juga dikenal istilah hadis sebagai sesuatu yang sebelumnya tidak ada (kebalikan dari qadim).
3.    Khabar dan Atsar
Pengertian khabar dan atsar menurut ulama hadis adalah sama dengan hadis. Namun sebagian ulama berpendapat bahwasannya sesuatu yang berasal dari Nabi adalah hadis sedangkan yang berasal dari selain Nabi adalah khabar. Lain lagi para fuqaha’ Khurasan mereka menyebut hadis mawquf dengan khabar dan hadis maqtu‘ dengan atsar . Menurut arti bahasa khabar ialah berita yang disampaikan . Khabar memiliki arti yang hampir sama dengan hadis, karena tahdis (pembicaraan) artinya tidak lain adalah ikhbar (pemberitaan). Hadis Rasul Allah adalah berita-berita yang disandarkan kepada Nabi saw. Sedangkan terminologi khabar ada beberapa pendapat, di antaranya "hadis yang disandarkan pada sahabat", "segala berita yang diterima selain dari Nabi" dan lain sebagainya. Untuk terminologi khabar, peneliti lebih sepakat dengan definisi yang pertama -sebagaimana juga dikemukakan oleh ulama Khurasan- yaitu khabar ialah hadis yang disandarkan pada sahabat (mawquf). Hal ini dimaksud untuk memudahkan klasifikasi serta untuk membedakan antara khabar dengan hadis atau sunnah .
Secara etimologi atsar berarti bekas atau sisa. Sedangkan secara terminologi ada 2 pendapat; (1). Atsar sinonim dengan hadis, (2). Atsar adalah perkataan, tindakan, dan ketetapan Sahabat  . Pendapat yang kedua ini mungkin berdasarkan arti etimologisnya. Dengan penjelasan, perkataan Sahabat merupakan sisa dari sabda Nabi. Oleh karena itu, perkataan Sahabat  disebut dengan atsar merupakan hal yang wajar.
Dari paparan tentang definisi hadis, sunnah, khabar dan atsar di atas, dapat dilihat bahwa ada perbedaan terminologi yang digunakan oleh muhadditsin terkait ruang lingkup dan sumber keempat definisi tersebut. Hadis atau sunnah memberikan pengertian bahwa periwayat mengutip hadis yang disandarkan kepada Rasulullah saw (marfu‘). Sedangkan khabar tidak hanya mencakup hadis marfu‘ saja akan tetapi juga mengakomodasi yang mawquf (periwayat hanya bersumber dari sahabat saja tidak sampai pada Rasulullah). Bahkan juga yang hanya berhenti sampai tingkatan tabi‘in (maqtu‘) saja. Sedangkan atsar oleh para muhadditsin lebih diidentikkan hanya pada hadis mawquf atau maqtu‘ saja .
Untuk memudahkan pengidentifikasian hadis maka akan lebih mudah apabila istilah hadis, sunnah, khabar dan atsar dibedakan dalam pendefinisiannya. Hal ini dilakukan bukan untuk mendistorsi makna dari istilah tersebut, tetapi lebih dimaksudkan untuk memudahkan identifikasi. Selain itu, diharapkan akan lebih mempermudah dalam memahami struktur hadis. Sehingga menurut hemat peneliti; hadis dan sunnah dipergunakan adalah untuk hadis marfu‘, khabar untuk hadis mawquf, dan atsar untuk hadis maqtu‘.
Selain dari istilah-istilah di atas, perlu juga kita ketahui perbedaan antara wahyu al-Qur'an, Hadis Qudsi, dan Hadis Nabawi.

0 komentar:

Poskan Komentar