Jumat, 26 Agustus 2011

Teori Behaviorisme dan Social Learning




            Bagi para guru, salah satu pertanyaan yang paling penting tentang belajar adalah : Kondisi seperti apa yang paling efektif untuk menciptakan perubahan yang diinginkan dalam tingkah laku? Atau dengan kata lain, bagaimana bisa apa yang kita ketahui tentang belajar diterapkan dalam instruksi? Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melihat pada penjelasan-penjelasan psikologis tentang belajar.
Makalah ini berisi tentang sebuah ulasan ringkas teori behaviorism yang dikemukakan oleh Pavlov, Watson, Thorndike, dan Skinner dalam buku “Psichology for Teaching’ (Lefrancois. 2000) yang ulasannya akan dijelaskan secara berturut-turut.

FOCUS QUESTIONS
Ada enam pertanyaan yang bisa menjadi pemandu kita untuk mengulas teori behaviorism (Lefrancois. 2000. 116), yakni :
  1. Apakah belajar itu?
  2. Mengapa teori-teori seperti yang diungkapkan oleh Pavlov, Watson, Thorndike, dan Skinner disebut sebagai ‘behaviorism’?
  3. Apa ‘classical dan operant conditioning’?
  4. Apa perbedaan antara ‘negative reinforcement dan punishment’?
  5. Mengapa schedule ‘reinforcement’ menjadi penting dalam suatu kelas belajar?
  6. Apa saja proses-proses dan pengaruh-pengaruh belajar melalui ‘imitation’?

LEARNING (Belajar)
Lefrancois (2000. 116) mengatakan “ If we, and other animals, didn’t easily learn to avoid things that make us ill, many of us wouldn’t be here today:  Too many ancestors would have poisoned themselves.” Hal ini diungkapkan setelah uraiannya mengenai sejumlah tikus yang diberi makanan dan dan diberi radiasi / penyinaran, yang membuat mereka  merasa sakit, pada akhirnya mereka menolak makanan yang baru saja mereka makan segera sebelum adanya radiasi. Menurut Lefrancois, fenomena yang terjadi pada sejumlah tikus tadi merupakan tipe belajar yang khusus yang cukup penting untuk bertahan hidup, yang disebut one-shot taste aversion learning[1].

A definition of Learning
Belajar tentang ‘taste aversion’ merupakan fenomena yang didasarkan pada segi biologis, dan sedeikit kaitannya dengan pengajaran. Akan tetapi, bentuk yang lebih umum dari belajar secara mutlak berpusat pada pendidikan.
                Belajar, seperti yang anda ketahui, merupakan perolehan informasi dan pengetahuan, kecakapan dan kebiasaan, dan sikap dan keyakinan. Learning[2] selalu melibatkan perubahan pada salah satu hal-hal tadsebuah perubahan yang diakibatkan dengan pengalaman-pengalaman orang yang belajar. Menurut ahli-ahli psikologi, belajar merupakan semua perubahan yang relatif permanen secara potensial dalam tingkah laku yang dihasilkan dari pengalaman, bukan dari kepenatan, kedewasaan, obat-obatan, luka, atau pun penyakit.
pengalaman                                                              belajar                                               Perubahan dalam tingkah laku
Berhubungan dengan, berpartisipasi dalam, dan terbuka untuk peristiwa-peristiwa internal dan eksternal dai organism yang peka.
Semua perubahan-perubahan yang relatif permanen secara potensial dalam tingkah laku yang dihasilkan dari pengalaman bukan karena kepenatan, kedewasaan, obat-obatan, luka, atu pun penyakit.
Perubahan-perubahan yang dapat diobservasi secara actual dan potensial, yang menyertai pengalaman, yang memberikan bukti bahwa proses belajar telah terjadi

Figure 4.1. Bukti dari proses belajar ditemukan dalam perubahan-perybahan actual dan potensial sebagi hasil dari pengalaman. Akan tetapi, belajar itu sendiri, sesuatu yang tidak tampak, proses neurological internal.
 Potential Changes In Behavior
(Perubahan-perbahan potensial dalam tingkah laku)
Bukti dari belajar dapat ditemukan tidak hanya dalam perubahan aktual tapi juga dalam perubahan potensial karena tidak semua perubahan yang dihasilkan dari belajar bisa ditampakkan dan dapat diobservasi. Sebagai contoh adalah kasus ‘The Talking Marks’; ada beberapa perubahan yang nyata yang terjadi dengan segera pada tingkah laku aktual siswa. Yakni pada saat Tyler mampu membuat tanda kutip pada kalimat langsung dan menuliskan dengan tepat; ini adalah sebuah tingkah laku yang sebelumnya dia belum mampu lakukan. Mungkin ada juga beberapa perubahan penting yang tidak tampak yang masih menjadi bagian dari fundamentalisme belajar itu sendiri.

Disposition[3]

Sebagai contoh, mungkin terdapat perubahan yang tidak diharapkan   (sebuah kemunduran) pada tingkat keberanian Jenna ( lihat ilustrasi ‘Of Pig Grunting and Flinching’) untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan kelas sebagai akibat dari penolakan Ms. Swann terhadap keinginan Jenna dan akibat dari peringatan Ms. Swann kepada Jenna atas kesalahan gramatikal penggunaan ‘May I—Can I’. Perubahan ini juga merupakan contoh dari hasil belajar yang melibatkan perubahan disposisi orang yang belajar—yakni pada kecenderungan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu—bukan pada perubahan yang terjadi dengan segera yang dapat diobservasi dalam tingkah laku aktual. Perubahan disposisi ini memiliki kaitan dengan yang disebut motivasi (secara rinci akan dijelaskan pada chapter 10). Perubahan yang sifatnya motivasinal tidak akan bisa diobservasi tapi meski demikian hal ini bukan lantas kemudian bisa dikatakan tidak nyata atau tidak penting.

Kasus dari kelas

The Talking Marks

Tempat: Kelas dua,; Guru: Mrs. Lyn Swann.
Situasi: Pelajaran Penggunaan Tanda Baca, tanda petik

Ms. Swann : Dan yang harus kita lakukan adalah meletakkan tanda kutip di awal dan di akhir kalimat yang keluar dari mulut Mr. Brown (sembari memperlihatkan sebuah tokoh kartun yang baru saja mengatakan, “Here’s my dog.”).
Tyler: Can I do it, MrsSwann? Can I?
Ms. Swann: May I, Tyler. It’s may I. Yes you may and well see if you can. (Ms. Swann menghapus tanda petik. Tyler mengambil spidol hijau dan membuat sepasang tanda petik pembuka dan penutup. Siswa lainnya juga sudah melakukan hal serupa.
Jenna: Can I do it too? Can I?
Ms. Swann: Weren’t you paying any attention at all, Jenna? It’s may! May, not can. No, you may not do it right naow. We have to move along because it’s going to be lunch time soon. (Dan pelajaran berlanjut).

Capability

(Kemampuan untuk melakukan sesuatu)
Belajar tidak hanya melibatkan salah satu perubahan potensial yakni disposisi saja tapi juga melibatkan perubahan capability[4] yakni perubahan dalam kemampuan (ability) atau dalam pengetahuan (knowledge) untuk melakukan sesuatu. Seperti perubahan disposisi, perubahan capability juga tidak selalu diobservasi secara langsung. Sebagai contoh, dalam kelas Ms. Swann, Banyak siswa yang mungkin juga belajar untuk membuat tanda petik dan meletakannya pada kalimat yang diucapkan Mrs. Brown. Tapi, seperti yang terjadi pada Jenna, kebanyakan siswa tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan hasil belajar ini dengan segera. Untuk menentukan apakah disposisi ataukah capability dari para siswa tersebut yang berubah setelah mengikuti instruksi; para guru perlu memberi para siswa kesempatan untuk terlibat dalam tingkah laku tersebut. Peristiwa bahwa disposisi atau capability telah berubah—atau dengan kata lain, bahwa belajar telah terjadi—akan selalu didasarkan pada performance.

Performance

Performance[5] termasuk dalam tingkah laku aktual. Apabila sebuah instruksi mempengaruhi orang yang belajar maka dengan demikian tingkah laku mereka ( performance mereka) setelah adanya instruksi akan berbeda setelah diobservasi, dari sebelum adanya instruksi; dengan demikian proses belajar telah terjadi. Namun seringkali, seperti kita ketahui bahwa, dalam proses belajar yang melibatkan baik perubahan disposisi maupun capability tidak terbukti pada performance sampai pada waktu orang yang belajar ditempatkan pada situasi yang dimana performance tadi bisa muncul. Para ahli psikologi membedakan 3 tipe performance, yakni belajar yang melibatkan koordinasi otot dan kemampuan fisik (motor learning[6]); emosi (affective learning[7]); serta informasi dan ide (cognitive learning[8]). Pembedaan tiga tipe tersebut didasarkan pada respon yang muncul.

Three Approaches to Human Learning

Seperti yang telah kita ketahui bahwa belajar merupakan perubahan-perubahan dalam tingkah laku potensial yang didapat dari pegalaman. Tidak mengherankan bila salah satu dari pendekatan ilmiah untuk memahami proses belajar ini melihat pada tingkah laku aktual. Pendekatan ini disebut dengan behaviorism[9]—yang dimulai dengan mencoba menjelaskan tingkah laku yang sederhana—yang respon-responnya dapat diobservasi dan dapat diprediksi. Oleh karena itulah pendekatan ini fokus utamanya adalah kondisi-kondisi ( yang selanjutnya disebut stimuli[10])--yang mempengaruhi organism dan yang menghasilkan tingkah laku-- dan focus juga pada tingkah laku-tingkah laku sederhana itu sendiri ( yang selanjutnya disebut responses[11]). Para peneliti yang berorientasi pada tingkah laku (behavioristik) mencoba untuk menemukan kaidah-kaidah yang membentuk formasi hubungan-hubungan antara stimuli dan respon-respon (kaidah conditioning[12]). Berdasar pada alasan tersebut, teori ini disebut juga teori stimulus-respon[13] (S-R) atau teori behavioristik.
                 Pendekatan kedua dikenal dengan cognitivism[14] yang focus pada aspek-aspek belajar yang bersifat intelektual atau mengacu pada mental. Pendekatan cognitivism ini sangat berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan cognisi, atau proses mengetahui. Para ahli cognitivism fokus pada bagaimana kita mengembangkan khasanah pengetahuan kita dan bagaimana kita sampai pada catatan-catatan mengenai kita sendiri sebagai orang yang belajar dan orang yang mengingat dan orang yang mampu memecahkan masalah. Perkembangan yang bertahap pada anak-anak akan kesadaran mereka sendiri sebagai manusia-manusia yang tahu, kesadaran mereka yang bertumbuh kembang akan strategi-strategi yang dapat meraka gunakan untuk mencerna dan memproses informasi, serta kemampuan mereka untuk membawa upaya-upaya mereka dan untuk mengevaluasi kegiatan kognitif mereka merupakan aspek-aspek metacognition[15]. Dengan kata lain, cognition mengacu pada proses tahu; metacognition mengacu pada proses mengetahui tentang mengetahui. Para peneliti yang berorientasi pada cognisi berusaha memahami alam informasi; bagaimana informasi diteliti dan diorganisasi oleh orang yang belajar; bagaimana informasi diingat kembali, dimodifikasi/diubah, diterapkan, dan dianalisa; serta bagaimana orang yang belajar tersebut memahami, mengevaluasi, dan mengendalikan kegiatan-kegiatan yang terlibat dengan cognisi. Piaget, yang teorinya dijelaskan secara detail pada chapter 3 adalah contoh tokoh cognitivism yang cukup mumpuni.

Pendekatan ketiga untuk memahami tingkah laku manusia adalah humanism. Ahli psikologi humanistic lebih berfokus pada individualitas manusia dan keunikan-keunikan manusia dari pada penemuan kaidah-kaidah umum guna menjelaskan respon-respon manusia. Mereka lebih berfokus pada perembangan emosional dari pada pengolahan informasi atau stimuli dan respon-respon.

Pada chapter ini kita membahas beberapa penjelasan dari tokoh-tokoh behavioristik tentang teori belajar dan implikasi-implikasnya untuk pengajaran. Bab 5 dan 6 membahas tentang cognitive. Bab 7 membahas tentang humanism.
Tabel 4.1
Pendekatan
Fokus utama
Variable-variabel kunci/konsep
Tokoh
Prinsip-prinsip yang berguna untuk para guru
Behaviorism
Tingkah laku
Stimuli
Responses
Reinforcement
Punishment
Behavior modification
Associative learning
Pavlov
Waton
Thorndike
Skinner
Bandura
·         Menjelaskan belajar tentang kemampuan dan sikap.
·         Menekankan reinforcement
Cognitivism
pengetahuan
Decision making
Understanding
Cognitive structure
Perception
Information processes
Memory
Ausubel
Bruner
Piaget
·         Menjelaskan pengembangan tentang pemahaman (makna)
·         Menekankan pentingnya kebermaknaan dan organisasi/pengaturan.
Humanism
manusia
Self-consept
Self-actualization
Self-worth
Maslow & rogers
·         Mengulas pengembangan afektif
·         Menekankan penyelarasan dan kesejahteraan
Tiga Pendekatan Belajar

PAVLOV’S CLASSICAL CONDITIONING

(Classical conditioning menurut Pavlov)
Beberapa bentuk sederhana mengenai proses belajar memerlukan sedikit pengolahan dan pemahaman informasi. Mereka justru bergantung pada formasi associations (satuan-satuan) yang seringkali diaalami secara tidak sadar. Istilah umum dari tipe belajar ini adalah associative leraning[16]. Sebagai contoh dari asosiative learning ini adalah kasus yang berjudul ‘Of Pig Grunting and Flinching’. Mungkin kita dapat berasumsi di sini bahwa, sebelum Robert mulai mengatakan kebohongan dan dihukum, dia tidak akan tersentak mendengar suara menggeram dari Mrs. Grundy. Robert yang selanjutnya tersentak merupakan contoh sederhana, ketidaksadaran, dan terkadang merupakan tipe yang sangat kuat dari asosiative learning yang selanjutnya dikenal dengan classical conditioning[17]. Kata classsical digunakan semata mata untuk membedakan bentuk khusus dari belajar ini dengan bentuk belajar lain yang secara terpisah diacukan sebagai conditioning dalam bahasa pengucapan .
                Ivan Pavlov adalah ahli psikologi dari Rusia yang namanya selalu dikaitkan dengan classical conditioning, berdasarkan pada observasinya yang cukup terkenal yang dilakukannya secara tidak sengaja. Pada saat itu observasinya melibatkan beberapa anjing. Menurut Pavlov anjing-anjing yang ada di laboratoriumnya mulai mengeluarkan air liur pada saat mereka akan diberi makan, bahkan sebelum mereka bisa melihat atau mencium aroma makanannya. Anehnya, mereka mengeluarkan air liur ketika mereka melihat penjaganya atau pada saat mereka mendengar langkah kaki penjaganya.
                Selanjutnya observasi sederhana tadi membimbing Pavlov untuk melakukan serangkaian percobaan yang cukup terkenal; dia akan membunyikan bel atau suara berdengung—yang dua-duanya tidak menyebabkan anjingnya berliur—dan kemudian dengan segera Pavlov memberi makan anjing-anjingnya, sebuah stimulus yang mengarah pada keluarnya liur. Dengan segera Pavlov menemukan bahwa apabila prosedur yang sama diulang sesering mungkin, bunyi bel atau dengung saja sudah dapat mengakibatkan keluarnya liur anjing.
                Pada percobaan yang dilakukan Pavlov, bunyi bell diacukan sebagai sebuah conditioned stimulus[18] (CS); makanannya adalah unconditioned stimulus[19] (US); pengeluaran air liur sebagai respon terhadap makanan sebagai unconditioned response [20](UR), sementara pengeluaran air liur sebagai respon terhadap bunyi bel atau dengung merupakan conditioned response[21] (CR).

Kasus di kelas

Of Pig Grunting and Flinching

Waktu: 1848
Tempat: Ruangan kelas Ibu Guru Evelyn Grundy in Raleigh, North California
Situasi: Robert, siswa berusia 6 tahun telah besikap buruk kepada beberapa siswi dan Robert juga telah berkata bohong

Dalam system Raleigh School di tahun 1848, punishment yang sudah ditetapkan atas kesalahan telah berbuat buruk pada para siswi dan berkata bohong adalah bila dijumlahkan menjadi sebanyak 17 cambukan. Tetapi karena ada dua kesalahan sekaligus yang terjadi, Ibu guru Grundy mempertimbangkan bahwa cukup bijaksana dan adil bila hukumannya digandakan menjadi 34 cambukan. Ibu guru sendir yang melakukan hukuman tersebut. Dan setiap kali dia menganngkat bambu untuk dipukulkan kepada Robert, ia memekik dengan suara keras, yang kedengarannya mirip suara geram yang dikeluarkan seekor binatang. Pada cambukan ke-10, Robert mulai tersentak sebelum bamboo dipukulkan. Dan Robert menangis cukup keras ketika bamboo dicambukkan.
Setelah hari itu, pada saat Ibu guru Grundy membagikan buku ejaan, pada saat posisi bu guru Grundy memunggungi Robert, Robert menggunakan penggarisnya untuk melemparkan gumpalan kertas ke arah bu guru Grundy hingga mengenai bagian belakang telinga sang ibu guru. Tak pelak lagi bu guru grundy memekik dengan sangat keras. Dan Robert pun tersentak.

            Kasus Mrs. Grundy/Robert merupakan ilustrasi sederhana tentang classical conditioning. Suara memekik diacukan sebagai conditioned stimulus. Reaksi rasa takut (flinch) merupakan unconditioned respon yang pertama; rasa sakit dari tongkat bamboo diacukan sebagai unconditioned stimulus.
NS
Suara memekik Ny. Grundi
 
                                   Sebelum conditioning
                               menghasilkan
                                                                      Tidak ada respon ( neutral response)


 




                                             
                                              Unconditioned stimulus menghasilkan unconditioned fear respon













Proses Conditioning           
NS
Suara geraman Ny. Grundy
 
               
                              
                                                                     


 

                                         menghasilkan
 



Neutral stimulus dipasangkan berulang-ulang dengan US


CS
Suara geraman Ny. Grundy
 
Setelah Conditioning          
                
CR
Tersentak(takut)
 
                                 
                                                                     
 


                                        
Neutral stimulus yang sebelumnya menjadi conditioned response
Menghasilkan conditioned response yakni rasa takut (fear)

Figure 4.2 Classical conditioning: sebuah sebuah Neutral stimulus (NS) pada awalnya dipasangkan dengan sebuah unconditioned,fear-producing stimulus (US) sedemikian rupa sehingga mata subyek pada akhirnya conditioned (terbiasa/terkondisikan) untuk takut pada neutral stimulus sebelumnya. Takut sekarang menjadi sebuah conditioned reponse (CR) terhadap conditioned stimulus (CS).

            Secara umum, stimulus atau situasi yang mengarah pada sebuah respon dapat dipasangkan dengan neutral stimulus[22] (stimulus yang tidak mengarah pada sebuah respon) untuk mengahasilkan classical conditioning. Belajar tipe seperti ini biasanya dilakukan tanpa disadari, artinya bahwa orang-orang yang belajar tidak merespon terhadap conditioned stimulus karena mereka menjadi sadar akan hubungan antara respon dan unconditioned stimulus. Pada dasarnya, classical conditioning dapat terjadi bahkan untuk merespon subyek yang biasanya tidak terkendali. Contoh, sebuah alat yang dingin atau panas yang secara mendadak ditempelkan pada kulit akan mengakibatkan penyempitan atau pelebaran pembuluh darah. Bila stimulus ini dipasangkan dengan neutral stimulus seperti sebuah bunti, maka bunyi itu sendiri selanjutnya mengarah pada penyempitan atau pelebaran pembuluh darah.

Watson’s Environmentalism

(Konsep environmentalism menurut Watson)
Lefrancois (2000.122) menjelaskan bahwa menurut J.B. Watson, tokoh yang sangat dipengaruhi oleh Karya Pavlov, manusia terlahir dengan sejumlah kemampuan refleks. Belajar semata mata merupakan persoalan tentang classical conditioning yang melibatkan gerak refleks tersebut. Karena itulah perbedaan-perbedaan diantara manusia sepenuhnya merupakan hasil dari fungsi pengalaman mereka. (Pendapat ini mengacu pada konsep tentang environmentalism[23] yang dibahas secara rinci pada bab 7).
                        Pendapat Watson sangat berpengaruh pada awal perkembangan psikologi di United States. Penekanannya pada precision (ketelitian/presisi), kekakuan, objectivity (keobyektifan) sangat sejalan/sesuai dengan semangat ilmiah pada saat itu—yakni pada saat penolakannya yang sangat terkenal sulit untuk mendefinisikan (dan measure/ukuran) istilah seperti mind (pikiran), feeling (perasaan), dan sensasi. Sebuah pendapat yang menyatakan bahwa ‘akan menjadi apa kita merupakan sebuah fungsi dari pengalaman-pengalaman kita’ juga mengusung pendapat tentang manusia yakni paham kesetaraan dan egalitarian. (lihat capter 7)


Implikasi pendidikan dari Paham Behaviorism
menurut Pavlov dan Watson
                Bagaimana dan seperti apa implikasi teori behaviorism di kelas? Lefrancois menyatakan bahwa Classical conditioning, khususnya yang melibatkan reaksi-reaksi emosi, sebenarnya terjadi di semua sekolah sepanjang waktu, tanpa menghiraukan jenis belajar yang berkembang pada saat yang sama. Sebagian besar melalui proses yang tidak disadari, para siswa menjadi tidak menyukai sekolahan, mata pelajaran, guru, dan stimuli terkait.
                Sebagai contoh , sebuah mata pelajaran, yang diasumsikan sebagai sesuatu yang baru kepada para siswa merupakan neutral stimulus yang sedikit menggerakkan respon emosi pada awalnya. Tetapi guru, kelas, atau stimulus tertentu lainnya dalam lingkungan baru siswa  yang dipasangkan secara berulang-ulang dengan mata pelajaran tadi bisa diacukan sebagai unconditioned stimulus.  Unconditioned stimulus ini mungkin saja dikaitkan dengan respon-respon yang menyenangkan (seperti: meja yang nyaman lengkap dengan laci, guru yang ramah) atau justru dengan reaksi yang negativ (seperti hawa dingin, meja yang kasar, guru yang galak dengan suara lantang dan suara derit kapur tulis). Misal: para siswa dikenalkan dengan pelajaran matematika, dengan unconditioned stimulus tertentu (missal: suara guru yang tidak merdu didengar, dll), emosi (tingkah laku) diasosiasikan dengan unconditioned stimulus bias saja menjadi classically conditioned di lain pihak, siswa belajar bersikap terhadap mata pelajaran, belajar, dan sebagaian besar sebagai fungsi classical conditioning. Maka dengan demikian sangat mungkin bila mengajari para siswa matematika pada saat yang sama juga mengajari para siswa untuk tidak menyukai matematika. Belajar matematika mungkin melibatkan proses cognitive (dan mungkin melibatkan satu bentuk pembiasaan juga, khususnya jika kemampuan repetitive dilibatkan), sementara belajar untuk tidak menyukai matematika merupakan classical conditioning. 

NS
matematika
 
Sebelum conditioning
                               menghasilkan
                                                                      Tidak ada respon ( neutral response)


 

                                           menghasilkan                                                               




Matematika tidak menghasilkan respon emosional yang kuat
Unconditional stimulus menghasilkan reaksi-reaksi negatif
Proses Conditioning           
NS
Matematika
 
               
                                    
                                                                     


US
Guru yang tidak ramah, suaranya tdk enak didengar, dan suara derit kapur
 
UR
Ketidaknyamanan
Tidak suka
Takut
 
 

                                                  menghasilkan
 




                                            Matematika dipasangkan berulang-ulangdengan unconditioned stimulus (guru)
CS
Matematika
 
 

                                                          Setelah Conditioning           
                                 
                                                                     
CR
Ketidaknyamanan
Tidak suka
Takut
 



                                        



Matematika menjadi sebuah conditioned stimulusDikaitkan dengan reaksi-reaksi negatif
Figure 4.3 Classical conditioning tentang phobia terhadap pelajaran Matematika
            Teori behaviorism ini mengarah pada teacher-centered (direct instruction[24] approaches), yang sering dilawankan dengan student-centered (constructivist approaches[25]). Artinya bahwa teori behaviorism menekankan peranan guru dalam mengatur situasi belajar dan pengolahan informasi, bukan peranan siswa dalam menemukan dan memahami.
                Kemudian sebenarnya mencakup apa saja implikasi instruksional dari classical conditioning itu? Lefrancois mengatakan ada setidaknya 3 hal, yakni:
a.        Guru perlu melakukan apapun yang mampu mereka lakukan guna memaksimalkan frekuensi, keistimewaan, dan potensi unconditioned stimuli yang menyenangkan dalam kelas mereka.
b.       Guru harus berusaha meminimalkan aspek-aspek yang tidak menyenangkan bagi para siswa, yang dapat menimbulkan penurunan jumlah dan potensi unconditioned stimuli yang negatif di kelas mereka.
c.        Guru harus megetahui apa yang harus dipasangkan dengan apa di kelas mereka.
Pepatah lama yang menyatakan bahwa belajar harus menyenangkan lebih merupakan permintaan murid yang sembrono; ini mengikuti langsung dari teori classical conditioning. Seorang guru yang membuat siswa/I nya tersenyum dan tertawa sementara dia meminta mereka mengulang table sebanyak 6 kali, karena variasi stimuli dan respon-respon yang dipasangkan, mungkin saja berhasil mengajari siswa/i dalam hal : (1) tersenyum dan tertawa, perbuatan yang bermanfaat sesuai hak-haknya; (2) mengaitkan stimuli semisa 6 X 7 dengan respon semisal ‘42’, informasi yang berharga; (3) menyukai aritmetika-menyukai guru, sekolah, bau kapur tulis, halaman-halaman dari sebuah buku, dll.
                Lefrancois (2000.124) kemudian memberikan pertanyaan dalam setelah uraian tadi, ‘ apa yang diajarkan guru yang membuat muridnya muram melalui table perkalian tadi?’

Thorndike’s Connectivism[26]
Mengapa teori dari Thorndike bisa dikategorikan dalam teori belajar behaviorism? Untuk menjawabnya mari kita mengulas lebih detil tentang konsep trial and error learning terlebih dahulu.

Trial and Error Learning[27]
Thorndike mengawali konsepnya dengan pernyataan seperti berikut: ‘People are always trying to show how intelligent their pet animals are.(Lefrancois.124) Dan melanjutkannya dengan pertanyaan ‘…are animals really intelligent?’ Dari sinilah kemudian Thorndike melakukan eksperimennya terhadap seekor kucing. Seekor kucing yang lapar dimasukkan dalam kandang (Thorndike menyebutnya dengan istilah ‘puzzle box’) dan dikunci sehingga tidak dapat keluar kecuali kucing tadi melakukan tiga hal: melepaskan tali untuk membuka kunci pertama, menginjakkan kaki di atas pengungkit untuk membuka kunci kedua, dan memutar grendel dari atas ke bawah searah jarum jam sehingga pintu terbuka. Untuk meyakinkan bahwa kucing akan termotivasi untuk keluar dari kandang, Thorndike meletakkan sesuatu yang ikan yang mati agak jauh dari kandang dimana kucing tidak dapat meraihnya dari dalam kandang. Apa yang terjadi? Kucing tadi mencari celah diantara jeruji kandang, mencakari pintu dengan tangan dan kakinya, mengeong minta tolong. Ketika semua strategi tadi tidak dapat berhasil, kucing tadi diam. Tidak lama kemudian kucing tadi melakukan hal yang sama mencoba segala strateginya hingga dengan tanpa sengaja melakukan tiga langkah sampai akhirnya ia mampu keluar dari kandang. Thorndike melakukan eksperimen ini berulangkali dan hasil pengamatannya adalah untuk pertama kalinya kucing memerlukan waktu 3 menit sampai bisa keluar dari kandang, selanjutnya setelah berulangkali dikunci dan mampu keluar dari kandang, kucing tersebut hanya memerlukan waktu kurang dari satu menit untuk keluar dari kandang yang terkunci.
                Itulah yang dimaksud Thorndike dengan trial and error learning, belajar dari usaha dan kesalahan, dan bukan dari pengetahuan yang detail (insight[28])atau proses mental serupa. Dan Thorndike menekankan bahwa manusia juga belajar dengan cara yang sama. Lefrancois selanjutnya meringkas esensi dari penjelasan Thorndike tentang bagimana manusia belajar: bahwa pada situasi tertentu, seseorang membuat aneka respon sampai respon tersebut membimbingnya psebuah pemecahan/solusi( istilah Thorndike:’a satisfying state of affairs’). Bahwa selanjutnya respon tersebut dipelajari kembali, atau menurut istilah yang digunakan Thorndike ‘stamped in’. Kemudian, belajar melibatkan koneksi ‘ stamping in’ antara stimuli dan response. Karena itulah teori ini disebut dengan connectionism.

Contiguity[29] atau Reinforcement[30]
Ada dua penjelasan untuk formasi gabungan antara stimuli, antara respon, atau antara stimuli dan respon. Yang pertama adalah penjelasan contiguity yang lekat dengan opini Pavlov dan Watson. Penjelasan ini mempertahankan opini bahwa munculnya peristiwa-peristiwa yang simultan sudah cukup menghasilkan associative learning. Selanjutnya, sudah cukup juga untuk memasangkan dengungan dan makanan sekian kali ( menyajikannya secara bersama) guna menyebabkan terjadinya proses belajar.
                Pilihan yang kedua adalah penjelasan penguatan/reinforcement. Penjelasan ini, yang dikenalkan oleh Thorndike dan dipopulerkan oleh B.F. Skinner, disebut pendekatan reinforcement. Penjelasan ini mempertahankan bahwa konsekuensi dari sebuah respon menngarahkan respon tersebut untuk dipelajari  atau tidak dipelajari).

Hukum-hukum Belajar Menurut Thorndike
Sebagian besar teori yang dikemukakan Thorndike secara khusus terkait dengan kondisi-kondisi yang mengarah pada ‘stamping ini’ atau ‘stamping out’ dari ‘bonds’ (istilah Thorndike untuk koneksi atau asosiasi). Hukum-hukum belajar Thorndike membentuk dasar teorinya mengenai bagaimana manusia belajar.

a. The law of effect[31]
Ini merupakan hukum yang paling penting dari hukum lainnya yang dikemukakan Thorndike. Lefrancois mengutip kalimat Thorndike ‘Responses occurring just prior to a satisfying state of affairs are more likely to be repeated.’ Begitu pula sebaliknya ‘Responses occurring just prior to an annoying state of affairs are more likely not to be repeated.’ Thorndike menjelaskan bahwa ‘satisfying state of affairs’ merupakan sesuatu dimana binatang (atau manusia) mencoba untuk mempertahankan, atau setidaknya tidak melakukan penolakan. Dan ‘annoying state of affairs’ merupakan sesuatu diman binatang (atau manusia) mencoba untuk mengubahnya, atau tidak melakukan sesuatu untuk mempertahankan. Definisi tadi tidak memiliki kaitan sama sekali dengan feeling /perasaan, tetapi hanya memiliki kaitan dengan behavior /perilaku.
                Setelah tahun 1930, Thorndike melakukan perubahan dengan pendapatnya. Yakni pendapat Thorndike terdahulu yang menyatakan bahwa ‘annoying state of affairs’ mengarah pada koneksi yang tidak dilakukan 9stamp out) atau yang dilupakan (forgotten). Akan tetapi eksperimennya selanjutnya membimbingnya pada opini bahwa sesuatu yang memuaskan (satisfiers) mengarah pada proses belajar, sementara annoyers (sesuatu yang mengganggu) tidak mengarah untuk dilupakan tetapi mengarahkan orang yang belajar untuk mealakukan sesuatu yang lain.

b. Hukum Readiness[32] (kesiapsiagaan)
Hukum ini menyatakan bahwa respon-respon tertentu lebih atau kurang kemungkinannya dari pada yang lain untuk dipelajari (stamped in), tergantung pada kesiapan orang yang belajar.Faktor-faktor seperti kedewasaan dan proses belajar sebelumnya jelas terlibat dalam menentukan apakah proses belajar (sekarang) itu mudah, sulit, atau tidak mungkin. Point penting dari hukum ini menyatakan dasar dari penjelasan Thorndike tentang reward[33] (penghargaan) dan punishment[34] (hukuman). Secara spesifik, kesiapan orang yang belajar menentukan apakah state of affairs (keadaannya) menyenangkan atau tidak. Thorndike tetap berpendapat bahwa keadaan (state of affairs) yang menyenangkan –sebuah reward—hasil yang didapat ketika seseorang siap untuk melakukan sesuatu dan diijinkan untuk melakukannya. Tetapi sebaliknya, pada saat seseorang tidak diijinkan untuk melakukan sesuatu ketika dia siap, atau dia terpaksa melakukan sesuatu ketika dia tidak siap, akan menghasilkan annoying state of affairs ( keadaaan yang mengganggu/ tidak menyenangkan)—punishment.

c. The Law of Exercise[35] (latihan), Repealed (sudah dicabut)
Hukum exerise ini mengekspresikan kuatnya keyakinan Thorndike pada sebelumnya bahwa keterikatan (‘bonds’) menjadi semakin kuat setiap kali diulangi (sebagai latihan). Keyakinan yang kuat ini memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap pendidikan di Amerika Utara selama beberapa decade pada abad 20an karena memberi kredibilitas ilmiah pada keyakinan bahwa latihan dan pengulangan merupakan yang paling penting diantara semua tehnik-tehnik instruksi. Tetapi ironisnya, Thorndike menolak/mencabut hukum belajar ini setelah tahun 1930. Dia telah menentukan melalui eksperimennya—yang pada saat itu manusia menjadi subyeknya—bahwa repetition/pengulangan sendiri tidak menyebabkan proses belajar. Atau menurut istilah yang digunakan Thorndike ‘The repetition of a situation may change a man as little as the repetition of a message over a wire changes the wire.’ (Lefrancois.128)

d. Subsidiary Laws (hukum-hukum tambahan)
Beberapa hukum tambahan juga membentuk bagian penting dari teori Thorndike. Lefrancois memberikan point-point pentingnya sebagai berikut:
a.       Hukum multiple responses[36] (respon ganda).
Hukum respon ganda ini berdasarkan pada observasi yang dilakukan Thorndike bahwa manusia yang dihadapkan pada sebuah persoalan yang sulit dimana saat itu mereka tidak mempersiapkan solusinya maka mereka akan menunjukkan bermacam-macam respon sampai menemukan satu respon yang menghasilkan pengaruh yang memuaskan. Dengan kata lain melalui trial-error sebuah persoalan dapat dipecahkan. Sebagai hasil dari hukum ini, teori Thorndike kemudian dikenal dengan teori belajar trial and error.
b.       Hukum set or attitude[37]
Hukum ini menyatakan bahwa belajar merupakan bagian dari fungsi sikap yang telah ditentukan sebelumnya atau kecenderungan untuk mereaksi dengan cara tertentu (sebuah kecenderungan untuk mereaksi didefinisikan sebagai ‘sets’) Sikap sangat dipengaruhi budaya. Sebagai contoh pada beberapa budaya tertentu, masyarakat dengan budaya tertentu mungkin bereaksi dengan cara lebih agresif dibanding masyarakat dengan budaya lainnya—dan karenanya lebih memungkinkan untuk dikuatkan dan untuk belajar merespon secara aggresif.
c.       Hukum prepotency of elements[38]
Hukum ini menyatakan konsep bahwa organism mereaksi dengan cara yang khas terhadap elemen-elemen yang paling siknifikan (atau ‘proponent’ / menyolok) dari sebuah situasi. Maka itulah, kucing dalam ‘puzzle box’-nya Thorndike tidak banyak membuang waktunya dengan mencakari langit-langit kotak tersebut tetapi lebih cenderung mencoba respon-respon lain dengan pengungkit dan tali, yang kedua benda tersebut penampakannya lebih menonjol /mencolok mata ( ‘proponent) pada situasi itu.
d.       Hukum response by analogy[39] (respon dengan menggunakan analogi)
Hukum ini merujuk pada pernyataan bahwa di saat kita ditempatkan dalam situasi yang baru, maka kita cenderung untuk mereaksi dengan cara yang cocok dengan situasi (yang pernah kita hadapi) yang mirip. Dengan demikian kita mentransfer respon-respon dari situasi yang satu kepada situasi yang lainnya, ini adalah kemampuan yang cukup penting untuk sebuah adaptasi. Contoh, karena melakukan transfer tersebut (istilah Thorndike ‘respon by analogi’), kita mampu menerapkan hukum ‘penjumlahan’ dan ‘pengurangan’ ketika kita membeli itm baru di toko yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya.

Penerapan Instruktusional dari Teori Thorndike
Banyak dari penelitian-penelitan dan tulisan Thorndike yang secara khusus ditujukan untuk penerapan penemuannya dalam pendidikan; karena itulah, teori-teorinya sangat kaya akan implikasi-implikasi instruksional. Sebagaimana adanya tataran-tataran behavioristik, implikasi-implikasi instruksional tersebut lebih berrelevan dengan sebuah model direct instruction (instruksi langsung) daripada dengan pendekatan constructivist seperti contohnya discovery learning/belajar menemukan atau pendekatan kooperatif.

Lalu, dalam bentuk yang seperti apa teori-teori Thorndike diterapkan dalam kelas? Mari kita bahas dalam ulasan berikut:
a.       Rewarding Correct Trials (pemberian rewards untuk usaha-usaha yang benar)
                Mungkin implikasi yang terpenting dari keyakinan Thorndike adalah bahwa hasil belajar dari correct trials (upaya-upaya yang tepat) itu diberi penghargaan ( mengacu pada ‘ a satisfying state of affairs’).  Ini berarti bahwa para guru dan sekolah-sekolah perlu memberi kesempatan kepada para siswa untuk menampakkan respon-respon yang bervariasi; dan respon-respon yang tepat tersebut perlu dihargai.Teori ini juga menekankan bahwa rewards dan punishment harus dikaitkan dengan situasi dan dengan siswa itu sendiri, dan diantara hal-hal yang lain—kesiapan siswa harus dipertimbangkan.


b.       Establishing attitudes (pembentukan sikap)
Banyak implikasi instruktusional dari teori Thorndike ditemukan dalam hukum-hukum tambahannya. Hukum set or attitude contohnya, menyatakan bahwa manusia seringkali merespon situasi-situasi yang tidak biasa/baru dipandang dari segi ‘sets’, atau ‘attitude’, yang melekat pada mereka. Guru seringkali melatih pengaruh yang dapat dipertimbangkan dalam menentuakn sikap siswa. Sebagai contoh, guru dapat mendorong siswa untuk mengembangkan sikap-sikap yang menghargai sebuah kreatifitas. Kemudian, siswa akan lebih mungkin untuk menghargai perilaku kreatif dan bahkan mungkin merespon secara kreatif.
                Hukum ini juga berimplikasi bahwa latar belakang budaya dan lingkungan sekitar tidak hanya memberi dampak bagaimana seseorang merespon namun juga menentukan apa yang akan dilihat sebagai ‘satisfying’ (sesuatu yang menyenangkan) atau ‘annoying’ (sesuatu yang mengganggu). Sebagai contoh, lingkungan siswa bias menentukan  bahwa keberhasilan di bidang akademis akan menjadi sesuatu yang menyenangkan—atau popularitas yang akan menjadi lebih menyenangkan daripada keberhasilan di bidang akademik.
c.       Readiness (kesiapan)
Pada dasarnya seorang yang belajar yang siap untuk belajar dengan tipe tertentu lebih memungkinkan untuk mendapatkan manfaat lebih banyak dari pengalaman belajar sebelumnya daripada seseorang yang belajar yang tidak siap. Selanjutnya, timbul pertanyaan:
Apa saja yang menjadikan seseorang ‘siap’?
Kesiapan bisa bergantung pada kedewasaan fisik, perkembangan kemampuan intelektual, kemahiran mernyerap informasi, dan bisa juga bergantung pada motivasi. Oleh karena itu, untuk menilai dan mempertinggi kesiapsiagaan, para guru perlu pengetahuan tentang emosinal anak dan pengemabngan intelektual—topic ini telah dibahas pada bab 2 dan 3. Mereka juga perlu mengetahui tentang bagaimana siswa belajar dan tentang motivasi mereka, topic ini akan dibahas secara detil pada bab 10 .
d.       Attracting attention ( menarik perhatian)
Hukum prepotency of elements menyatakan bahwa manusia merespon pada aspek-aspek yang paling siknifikan atau yang paling menonjol dari stimulus situation dan tidak perlu merespon keseluruhan elemen situasi. Ternyata, para siswa tidak semestinya dan mungkin tidak dapat merespon seluruh pemandangan dan suara di sekeliling mereka pada waktu tertentu. Oleh karena itulah, guru harus berhati-hati dalam menekankan  (membuat sesuatu menjadi menyolok) aspek-aspek yang penting dari situasi belajar (contohnya dengan cara menggarisbawahi, penggunaan warna, penggunaan suara dan gesture, melalui repetisi/pengulangan, dll.)

e.       Generalizing generalization (meng-generalisir generalisasi)
Terkadang konsep ini diacukan sebagai ‘transfer’[40] (pemindahan) atau  respon by analogy’ dan konsep ini merupakan salah satu tujuan-tujuan penting dari pendidikan. Generalisasi (generalization[41]) muncul bilamana sebuah respon yang dipelajari sebelumnya dipindahkan/ditransfer kepada sebuah situasi yang baru—atau ketika sebuah stimulus baru direaksikan seolah-olah situasi baru tersebut sudah dikenal. Ketika Tammy menggunakan kaidah perkalian yang sudah dia pelajari di sekolah untuk menentukan berapa banyak permen karet yang bias terbeli dengan uang sebesar 50 cent, dia sedang melakukan generalisasi. Thorndike percaya bahwa pemindahan dari sebuah respon kepada sebuah stimulus yang baru merupakan fungsi dari kemiripan dua stimuli—disinilah berlaku hukum ‘respon by analogy.’
                Thorndike menyarankan bahwa para guru mampu memfasilitasi pemindahan dengan cara menunjukkkan variasi dari situasi-situasi dimana satu respon (atau kaidah) dapat diterapkan. Thorndike juga menekankan bahwa penting bagi seorang guru untuk menunjukkan keterkaitan antar ide. Thorndike menegaskan keterkaitan-keterkaitan tersebut merupakan dasar pengetahuan.

 

Skinner’s Operant Conditioning

Ditilik dari definisinya, tokoh-tokoh behaviorism menaruh perhatian utama terhadap prilaku. Mereka mendefinisikan belajar berkenaan dengan perubahan dalam tingkah laku dan melihat pada lingkungan sekitar untuk penjelasan-penjelasan perubahan-perubahan ini. Teori-teori mereka bersifat associative; penjelasan-penjelasan tersebut berkaitan dengan ‘connection’ atau ‘associations’ yang dibentuk diantara respon dan stimuli. Dan, seperti yang kita ketahui, teori-teori ini menggunakan salah satu atau kedua-duanya  dari dua penjelasan-penjelasan atas kelas utama dalam belajar; mereka berdasarkan pada ‘contiguity’ (keserentakan dari peristia stimulus dan respon) dan berdasarkan pada ‘effects of behavior’ ( reinforcement dan punishment). Watson dan Pavlov adalah ahli-ahli teori contiguity; Thorndike adalah ahli teori reinforcement. Dan B.F. Skinner, salah satu dari ahli psikologi yang paling berpengaruh di abad ke-20 dan perintis sekaligus pelopor teori operant conditioning[42].

Respondents[43] and Operants
Skinner termasuk ahli yang pertama kali membuat perbedaan diantara dua tipe tingkah laku—sebuah perbedaan yang dikatakan oleh Rehfeldt dan Hayes (Lefrancois.130) menyatakan banyak ahli psikologi yang masih mempertimbangkan valid dan penting. Di satu pihak, banyak respon-respon yang bisa dihasilkan melalui  sebuah stimulus dan bisa menjadi conditioned (terkondisi) pada stimuli lainnya dengan cara seperti yang dideskripsikan oleh Pavlov dan Watson. Skinner mengacu pada respon-respon sebagai ‘elicited responses’[44], dan dia menyebutnya ‘behavior respondent’ karena ini muncul sebagai respon dari sebuah stimulus.
                Akan tetapi Skinner menklaim bahwa ada kelas tingkah laku yang kedua yang lebih luas dan lebih penting. Ini berisi tingkah laku-tingkah laku yang tidak dihasilkan dari stimuli yang tidak diketahui  tetapi semata-mata merupakan emitted response[45]. Inilah yang disebut ‘operants’ karena, dalam beberapa hal, mereka berupa operasi-operasi yang dilakukan oleh organism. Cara lain untuk membuat perbedaan berkaitan dengan respondent behavior, organism tersebut bereaksi terhadap lingkungan, sedangkan kaitannya dengan ‘operant behavior’, organism tadi bertindak atas lingkungan.  Cara lain lagi untuk membedakan  antara ‘respondent’ dan ‘operants’ adalah dengan melihat bahwa ‘respondents’ sebagian besar muncul tanpa disengaja, sedangkan ‘operants’ muncul dengan cara lebih disengaja ( meski demikian Skinner tidak akan menggunakan istilah ini; dia mempercayai  hal-hal tersebut untuk melibatkan spekulasi-spekulasi yang tidak diperlukan). Lihat table 4. 2.
TABEL 4.2.
Classical dan operant conditioning
Classical (Pavlovian)                                                                                                                Operant conditioning
§   Berkaitan dengan ‘respondent’, yang dihasilkan oleh stimuli dan muncul tanpa disengaja.
§   Reaksi-reaksi terhadap lingkungan.
§   Tipe S conditioning ( S : stimuli)
§   Berkaitan dengan ‘operants’, yang terpancar sebagai tindakan-tindakan penolong/perantara.
§   Tindakan-tindakan atas lingkungan
§   Tipe R conditioning (R: reinforcement)


Perbedaan antara respondent dan operant behavior bias dijelaskan secara terperinci lagi menggunakan penelaahan tingkah laku-tingkah laku sederhana. Bersin, berkedip, marah, takut, atau bersemangat—itu semua merupakan respondent. Apa kesamaan tingkah laku-tingkah laku tadi, yakni bahwa mereka semua sebagian besar terjadi secara otomatis dan tanpa disengaja, dan merupakan respon-respon, yang munculnya hampir tak terelakkan, terhadap situasi tertentu. Dengan kata lain mereka merupakan respon-respon yang bisa diyakini dihasilkan dengan stimuli tertentu. Resppon-respon semacam itu bisa dibiasakan secara klasikal ( classical conditioned).
Sebaliknya, menyetir mobil, menulis surat, menyanyi, membaca buku, dan mencium bayi secara umum dikategorikan sebagai operant. Kesamaan khusus mereka adalah bahwa mereka terjadi secara disengaja dan intentional. Mereka terjadi bukan sebagai respon-respon, yang tidak disengaja, terhadap stimulasi tertentu tetapi sebagai tindakan-tindakan (bukan reaksi) yang dikendalikan secara personal. Dan mereka semua mengacu pada hukum-hukum operant conditioning.
Operant conditioning ini sedikit berbeda dengan konsep Thorndike tentang belajar dan dengan law of effect, karena operant conditioning tidak melibatkan yang jelas stimuli. Thorndike meyakini bahwa dampak dari reinforcement adalah memperkuat keterikatan yang ada antara stimulus dan respon, sedangkan Skinner mendeklarasikan bahwa stimulus biasanya tidak diketahui dan, dalam beberapa hal, tidak bersangkut paut dengan belajar. Keterikatan terbentuk antara respon dan reinforcement daripada antara stimulus dan respon. Intinya, semua yang terjadi dalam operant learning ialah bahwa ketika sebuah respon yang ditampakkan diperkuat, maka peluang meningkat, artinya respon tersebut akan diulangi.

Apa Operant Conditioning itu?

Ilustrasi yang paling jelas melibatkan eksperimen khas Skinnerian. Dalam eksperimen tersebut, seekor tikus diletakkan dalam kotak milik Skinner, berukuran kecil, lingkungannya terkendali. Kotak Skinner (the Skinner box[46]) dikonstruksi sedimikian rupa untuk membuat repon-respon tertentu yang berpeluang tinggi terjadinya dan untuk membuat kotak tersebut memugkinkan bagi yang melakukan eksperimen untuk mengukur respon-respon dan untuk memberi punishment atau reward. Lefrancois (2000.132) mengatakan untuk eksperimennya , kotak tersebut berisi sebuah pengungkit, sebuah tali, sebuah jaring bermuatan listrik yang terletak di lantai, dan sebuah baki makanan, semuanya diatur sedemikian rupa sehingga apabila tikus tersebut menekan pengungkit, lampu akan menyala dan sebutir makanan akan masuk kedalam baki makanan. Pada kondisi seperti itu, kebanyakan tikus akan dengan segera belajar menginjak pengungkit, dan mereka akan melakukan hal serupa selama bebrapa waktu meskipun mereka tidak selalu memperolah makanan setiap kali mereka menekan pengungkit. Demikian pula, tikus-tikus tersebut dapat dengan tiba-tiba diarahkan untuk menolak pengungkit jika pada saat menekan nya akan mengaktifkan arus listrik pada lantai jaring. Tetapi, tikus-tikus tadi juga akan belajar untuk menekan pengungkit untuk memadamkan arus listrik.
                Sebagian besar element dasar dari teori-teori Skinner terbukti dalam situasi itu. Tindakan tikus menekan pengungkit merupakan operant—prilaku yang hampir jarang terjadi yang semata-mata ditampakkan daripada dihasilkan oleh sebuah stimulus tertentu. Butiran makanan berlaku sebagai reinforcement. Keberadaan mereka sebagai sebuah hasil dari penekanan tikus terhadap pengungkit meningkatkan peluang kapanpun tikus tersebut berada dalam situasi serupa, tikus tersebut akan berjalan-jalan disekitar pengungkit dan menekannya.
                Secara umum, operant conditioning meningkatkan peluang bahwa sebuah respon akan muncul kembali. Peningkatan ini merupakan sebuah hasil dari reinforcement. Selanjutnya, model Skinner mengenai operant conditioning menyatakan bahwa reward, bersama-sama dengan apakah stimuli yang dibedakan (discriminated stimulus[47]) (SD)2 dimunculkan pada saat reinforcement, merupakan stimuli yang, setelah belajar, dapat menghasilkan operant. Sebagai contoh, penglihatan (dan penciumannya) tikus terhadap situasi di dalam kotaknya Skinner pada akhirnya memungkinkan berlaku sebagai stimuli untuk berperilaku menekan pengungkit. Tetapi, tegas Skinner, semua itu bukan stimuli dalam hal dimana tiupan angin di mata merupakn sebuah stimulus yang menghasilkan kedipan. Akan tetapi lebih kepada, stimuli yang dibedakan tadi semata-mata dianggap sebagai gejala dimana prilaku tertentu bisa mengarah pada reinforcement. (lihat figure 4.7 berikut untuk model operant leraning di dalam kelas.

Sebelum Conditioning

Stimulus context: classroom
Respon
Membaca komik
 
Respon
Memperhatikan guru
 
Respon
Berbicara dengan teman sebelah
 
 

  



        Respon-respon yang bervariasi ditampakkan dalam konteks stimulus tertentu

 

Proses conditioning

Stimulus context: classroom
 







Satu respon diperkuat secara sistematis

Setelah conditioning

Stimulus context: classroom
 







Respon yang diperkuat menjadi lebih sering muncul.
Stimuli yang menyertai reward (discrimenated stimuli/stimuli yang dibedakan, atau SD)
memerlukan kontrol atas respon.

Figure 4.7 Operant conditioning di dalam kelas: dalam operant conditioning, tidak seperti dalam classical conditioning, respon asli terpancar daripada dihasilkan oleh stimuli. Dalam contoh ini, sebuah variasi off-task behaviors dan on-task behaviors ditampakkan. Reinforcement mengarah pada lebih seringnya kemunculan on-task behaviors.


Reinforcement
Penyebab-penyebab tingkah laku, Skinner menegaskan, berada di luar organism; mereka berkaitan dengan konsekuensi dari tindakan-tindakan. Oleh karenanya, pegetahuannya tentang tingkah laku berusaha menemukan dan mendeskripsikan hukum-hukum yang memnciptakan interaksi-interaksi antara organism dan lingkungan. Untuk melakukan hal ini, Thorndike berdasar pada apa yang ia deskripsikan sebagai analisa eksperimental tingkah lalu (experimental analysis of behavior[48]).
                Mengingat bahwa eksperimen-eksperiment melibatkan dua jenis variable: variable bebas (factor-faktor yang dapat langsung dimanipulasi dengan cara eksperimental, seperti reinforcement) dan variable terikat ( yakni variable yang dipengaruhi oleh manipulasi-manipulasi variable bebas, seperti rat-rata respon). Variabel bebas yang utama menurut system Skinner adalah tipe reinforcement dan reinforcement schedule (bagaiman reinforcement ditampakkan). Variabel terikat yang utama adalah rata-rata diman respon-respon muncul, durasi waktu dibutuhkan untuk belajar, dan durasi waktu dimana tingkah laku didilakukan setelah reinforement berhenti (lihat table 4.3). Mari kita lihat masing-masing variable tersebut dalam ulasan berikut.

Reinforcement Defined
Skinner membuat perbedaan yang penting antara dua istilah yang berkaitan : reinforcer[49] dan reinforcement. Sebuah reinforcer, menurut istilah Skinnerian, sebuah stimulus; reinforcement adalah dampak dari stimulus. Sebagai contoh, permen dapat dijadikan sebagai reinforcer karena permen bisa dikuatkan dan karena permen merupakan sebuah stimulus. Tetapi, sejumput permen bukan sebuah reinforcement, meskipun dampaknya terhadap seseorang bisa menjadi contoh dari reinforcement.

Tabel 4.3. Variabel-variabel dalam Analisa eksperimennya Skinner tentang perilaku
INDEPENDENT VARIABELES
DEPENDENT VARIABLES
Tipe reinforcement
Schedules renforcement
Aquisition rate
Rate of responding
Extinction rate/pemusnahan rata-rata

Definisi yang paling dapat diterima tentang sebuah reinfocer adalah bahawa reinforcer merupakan stimulus apapun yang meningkatkan peluang dimana reinforcement akan muncul. Definisi ini menjelaskan bahwa dampak dari stimulus menentukan apakah stimulus akan dikutkan. Jadi, satu-satunya bukti yang objektif dimana sebuah stimulus merupakan reinforcement berada dalam intensitas yang bertambah, frekuensi, atau durasi respon-respon yang kiranya diperkuat.Hal ini berarti bahwa sebuah situasi tertentu (stimulus)bisa diperkuat oleh seseorang tetapi tidak memperkuat yang lain. Siswa tingkat pertamamungkin bereaksi dengan ketertarikan dan upaya yang diperbaharui ketika mereka diberi hadiah bintang-emas kecil sebagai pengharhaan atas karya mereka. Mahasiswa yang profesornya menawarkan kepada mereka bintang-bintang kecil munkin akan berpikir, dengan sedikit mengadili, bahawa professor tersebut sedikit aneh.
                Reinforcer bisa didasarkan atau digeneralisir. Primary reinforcer[50] merupakan sebuah stimulus yang diperkuat secara alamiah—dimana organism tidak harus belajar merupakan penguatan. Primary reinforcer biasanya berkaitan dengan sebuah kepentingan atau perangsang: makana, minuman, atau sex. Stimuli yang menyenangkan item-item tersebut cenderung sangat diperkuat bagi kebanyakan organism. Mereka diacukan sebagai ‘positif stimuli’.
                Generalized reinforcer[51] merupakan neutral stimulus yang terdahulu dimana, melalui pemasangan yang diulang-ulang dengan reinforcer-reinforce lain dalam situasi yang bervariasi, bisa menjadi penguatan yang digeneralisir untuk beberapa tingkah laku. Prestise, uang, dan kesuksesan merupakan contoh reinforcer yang digeneralisir dengan penuh kekuatan.
                Reinforcer bisa menjadi positif bisa juga negatif.  Sebuah positive reinforcer[52] merupakan sebuah stimulus yang meningkatkan peluang munculnya sebuah respon ketika hal itu ditambahkan pada sebuah situasi. Negatif reinforcer memiliki dampak yang sama sebagai hasil dari proses dipindahkan keluar dari situasi tersebut. Negative reinforcer[53] cenderung menjadi aversive stimuli ( contohnya sengatan listrik dan penawanan. Dampaknya, ketika dipindahkan atau diberhentikan , adalah peningkatan dalam tingkah laku. Positif reinforcer cenderung berupa stimuli yang mmenyenangkan. Pada contoh ‘puzzle box’-nya Skinner, butiran makana merupakan stimuli yang menyengakan yang diperlakukan sebagai positif reinforcement—demikian juga halnya dengan lampu. Tetapi, jika arus listrik dinyalakan dalam jarring listrik yang mengalir melalui lantai kotak, bila arus ini dimatikan hanya pada saat tikus menekan pengait, maka penghentian arus merupakan contoh dari aversive stimulus yang dianggap sebagai negatif reinforcer.

Reinforcement dan Punishment di dalam kelas
Secara singkat, menurut Lefrancois (2000.134), ada dua macam reinforcement. Yang pertama melibatkan pemunculan stimulus yang menyenangkan (positif reinforcement; reward); yang satu lagi melibatkan pemindahan aversive stimulus (negative reinforcement; relief). Demikian pula, ada dua macam punishment, masing-masing merupakan kebalikan dari masing-masing reinforcement. Yang satu merupakan punishment yang muncul pada saat stimulus yang menyenangkan dihilangkan (penalty; seringkali disebut removal punishment); yang satu lagi merupakan situasi yang lebih familiar pada saat aversive stimulus dimunculkan (‘catigation’/hukuman; terkadang disebut presentation punishment).
                Lefrancois menegaskan bahwa baik positif maupun aversive stimuli dapat digunakan untuk reinforcement atau pun punishment. Lihat table 4.8. Hal ini bergantung pada apakah stimuli ditambahkan atau dikurangi dari situasi yang mengikuti tingkah laku. Sekali lagi Lefrancois menegaskan bahwa kita juga harus mengingat bahwa apakah stimulus merupakan reinforcement atau tidak bergantung sepenuhnya pada dampaknya terhadap tingklah laku.Bagaiman reinforcement dan punishment diterapkan dalam kelas? Berikut ulasannya.


Tingkah laku  menguat
Tingkah laku  melemah
Ditambahkan pada sebuah situasi setelah sebuah respon
Positive reinforcement (reward):
(Louella diberi jelly)
Presentation punishment
(tipe I: castigation)
(Louella dipencet hidungnya karena berlaku tidak baik)

Dicabut dari sebuah situasi setelah sebuah respon
Negative reinforcement (relief):
(Hidng Louella tidak dipencet lagi karena dia mengatakan “I’m sorry.”)
Pencabutan punishment
(Tipe II : penalty)
(Jelly-nya Louella diambil karena berlaku tidak baik)

Figure 4.8 Reinforcement dan Punishment
a.       Positive reinforcement (reward)
Contoh- contoh positif reinforcement di dlam kelas sangat banyak. Ketika guru tersenyum kepada siswa, mengatakan sesuatau yang menyenagkan kepada siswa, memuji pekerjaaan siswa, memberi nilai tinggi, menunjuk seorang siswa atas proyek/karya bagusnya, atau berceritera kepada wali murid betapa pandai putra-putri mereka, semua itu contoh dimana guru menggunakan positif reinforcement.  (lihat bab 11 untuk ulasan detilnya)
b.       Negative reinforcement (relief)
Ancaman-ancaman yang sifatnya implist dan eksplisit dari punishment, kegagalan, penawanan, ejekan, kemarahan dari orangtua, penghinaan, dan semua yang tidak menyenangkan yang terjadi secara berulang menimbulkan sesuatu yang seolah bagaikan seperangkat persenjataan perangnya guru sebagai wujud dari aversive stimuli (stimulus-stimulus yang tidak disukai) yang dapat digunakan baik sebagai negative reinforcers maupun sebagai bentuk punishment. Ketika ancaman –aancaman tersebut mengikuti perilaku-perilaku yang tidak mau patuh, yang tidak disiplin, atau perilaku-perilaku yang tidak dapat diterima lainnya., maka itu semua mengilustrasikan presentation punishment (penampakan dari sebuah stimulus yang tidak menyenangkan yang diikuti perilaku yang tidak diharapkan). Ketika ancaman-ancaman tersebut dihilangkan dan diikuti perilaku yang dapat diterima, mka hal ini menunjukkan sebuah contoh dari negative reinforcement (pemusnahan sebuah stimulus yang tidak menyenangkan yang diikuti dengan perilaku yang diharapkan, diistilahkan dengan Relief)Perilaku-perilaku negative dan kadanglaka perilaku yang tidak tepat, seperti kecenderungan untuk melarikan diri mencegah situasi, seringkali merupakan hasil dari pemberian negative reinforcement yang melebihi batas.
c.        Presentation Punishment[54] (castigation)
Tipe punishment yang merupakan hasil dari penampakan aversive stimulus, yang biasanya digunakan dalam upaya untuk menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan, terkadang disebut ‘presentation punishment’. Salah satu contoh klasiknya adalah penggunaan cambuk  di salah satu sekolah di North Carolina pada tahun 1848 (lihat table 4.4. dan kasus Mrs. Grundy, di awal bab ini)—sebuah praktek yang secara umum tidak diterima lagi.
                                               
                                              Tabel 4.4.
    Kutipan dari sebuah daftar Punishment in North Carolina School, 1848
NO
Peraturan Sekolah
Cambukan
1.
Siswa dan siswi bermain bersama
4
9.
Berkata bohong
7
16
Berlaku buruk kepada siswi
10
22
Kukunya panjang
2





d.       Removal punishment[55] (penalty)
Punishment yang melibatkan penghapusan sebuah positive stimulus yang diikuti dengan sebuah perilaku (penalty) kadangkala disebut removal punishment (karena, bertolak belakang dengan presentation punishment, melibatkan penghapusan sebuah stimulus). Praktek di kelas yang jelas terjadi adalah penawanan siswa setelah jam sekolah berakhir, selama hal ini menghapuskan hak yang jelas-jelas dimiliki siswa untuk pulang ke rumah (segera setelah jam sekolah berakhir), maka hal ini merupakan contoh dari tipe punishment. (lihat figure 4.9. sebagai contoh penerapan operant conditioning di dalam kelas.)

Kekuatan Reinforcment dan Punishment
Sebuah fakta sederhana yang menampakkan dimana reinforcement seringkali mengarah pada perubahan-perubahan perilaku yang mendefinisikan belajar dapat dengan mudah didmonstrasikan dalam peri laku baik binatang maupun manusia. Punishment memiliki sebuah persamaan, jika sebaliknya, maka dampaknya hamper tidak jelas. Seperti yang diakui Thorndike pada tahun 1931, kesenangan akan lebih kuat dalam ‘stamping in’/penampakan respon-respon dari penderitaan dalam ‘stamping out’/ peniadaan respon-respon.

Kasus Mengenai Punishment
Berikut ini beberapa hal penting yang dirincikan oleh Lefrancois (2000.136) berkaitan dengan penerapan punishment di kelas. Dengan mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan etis dan humanitarian, ada beberapa alasan-alasan lain dimana penggunaan punishment bukan menjadi alat kendali yang sepenuhnya memuaskan atas perilaku:
·         Punishment bukan semata-mata mengilustrasikan ataupun menekankan perilaku yang diinginkan tetapi semata-mata menggambarkan perhatian terhadap respon-respon yang tidak diinginkan, makanya hal ini sangat tidak berguna dalam sebuah situasi belajar.
·         Punishment seringkali diikuti dengan dampak-dampak dari segi emosi yang sangat tidak diinginkan yang dapat diasosiakan dengan ‘the punisher’ (orang yang memberi punishment) dari pada dengan perilaku yang dikenakan punished.
·         Punishment tidak selalu mengarah pada penghapusan respon tetapi kadangkala hanya sekedar digunakan untuk penindasan respon. Artinya bahwa sebuah perilaku jarang sekali dilupakan sebagai akibat dari punishment, meskipun perilaku tadi bias dicegah—kadangkala sifatnya hanya sementara.
·         Punishment seringkali juga tidak berhasil. Sears, Maccoby, dan Lewin (Lefrancois.2000.137) menyatakan bahwa orangtua yang menghukum anak-anaknya dengan berat karena bertingkah laku agresif cenderung menjadikan anak-anak mereka tersebut menjadi (semakin) agresif, dibandingkan orangtua lainnya . Para ibu yang terlalu menghakimi (anak-anak mereka yang berperilaku tidak seperti yang diharapkan) pada saat melatih pergi ke toilet justru menjadikan anak-anak itu mengompol di tempat tidur.
Stimulus context: classroom

Stimulus

Operant response

Consequense
(reinforecement or punishement)

Implications







Ujian fisika diumumkan

Siswa belajar dengan tekun

Positive reinforcement: siswa mendapat nilai A

Siswa lebih mungkin belajar dengan cara yang serupa kembali







Guru mengejek atas jawaban yang salah

Siswa menjawab hanya ketika dia yakin jawabannya betul

Negative reinforcement: siswa tidak diejek

Siswa lebih mungkin untuk menjawab hanya ketika dia yakin jawabannya betul







Guru sedang mengajar

Siswa becakap-cakap dengan teman sebelahnya

Presentation punishment: guru menyuruh siswa membersihkanpapn tulis

Siswa lebih mungkin untuk tidak berbicara selama guru sedang mengajar







Guru berjanji mengajak berwisata bila siswa berlaku baik

Siswa berlaku buruk

Removal punishment: Hak untuk berwisata dicabut

Siswa lebih mungkin untuk tidak berlaku buruk sebelum berwisata dilaksanakan

Figure 4.9.  Contoh kelas dengan operant conditioning: dua contoh pertama (positive dan negative reinforcement, secara berturut-turut) mengarah pada sebuah peningkatan dalam kemungkinan respon yang muncul. Dua contoh terahir (dua-duanya membentuk punishment) mengarah pada sebuah penurunan  dalam respon yang muncul. Guru juga mungkin kurang hati-hati sehingga menguatkan tingkah laku yang tidak tepat yang dilakukan siswa (contoh kedua)


·         Aversive controls[56]
        Perlu ditekankan lagi bahwa negative reinforcement dan punishment menggambarkan dua situasi yang sangat berbeda. Dua hal ini seringkali membingungkan karena semuanya melibatkan aversive stimuli (stimulus yang tidak disukai). Tetapi, dua-duanya didefinisikan berkenaan dengan ‘dampak’ dua hal tersebut terhadap perilaku—dan ‘dampak’ tersebut berbeda satu dengan lainnya. Tegasnya, punishment menghasilkan  sebuah penerunan perilaku, sedangkan negative reinforcement, seperti halnya positif renforcement, meningkatkan peluang sebuah respon akan muncul. Oleh karena itulah, seorang anak dapat didorong untuk berbicara secara sopan terhadap para guru dengan cara tersenyum pada para guru untuk mengungkapkan ‘silahkan’ dan ‘terima kasih’ (positif reinforcement). Seorang anak lainnya boleh dipukul dengan bamboo ketika ungkapan mempersilahkan dan berterimakasih dilupakan—dengan pemahaman bahwa bamboo akan dijauhkan hanya pada saat perilaku sesuai dengan standar guru tentang kesopanan (negative reinforcement). Pada akhirnya, dua anak tersebut mungkin menjadi sangat sopan. Tetapi, menurut anda, anak yang mana yang suka terhadap lebih suka kepada para guru dan sekolah-sekolah?
                Tampaknya memang aneh, penggunaan negative reinforcement sebagai sebuah alat control kemudian menjadi sangat umum dilakukan saat ini di sekolah-sekolah, rumah, dan gereja seolah-olah (negative reinforcement) sama dengan penggunaan punishment. Metode-metode aversive control (yang dilawankan dengan positive control[57]) terbukti dalam pemberian nilai rendah yang disertai omelan/cacian, ancaman-ancaman punishment, penahanan, dan juga terbukti dalam nasib yang tidak menyenangkan yang menunggu mereka yang telah berlaku salah (berdosa) yang berlaku pada kebanyakan agama. Metode-metode ini juga terbukti dalam system hokum dan pengadilan kita, yang menghakimi secara luarbiasa dari pada menghargai. Material rewards atas berbuat baik jarang sekali terbukti, akan tetapi kriminalitas jelas dihukum. Pada dasarnya, reward atas berbuat baik mengarah pada penbentukan tidak dihukum. Itulah yang disebut negative reinforcement.
                Sulit menentukan mana yang lebih penting dalam kehidupan kita—positif atau negative reinforcement?  Tidak mudah pula memisahkan dua hal tersebut dalam prakteknya; kehidupan sehari-hari dianggap lebih bersikap toleran terhadap ambiguitas dibandingkan teori psikologis. Selanjutnya Lefrancois (2000.137) mengajak kita untuk mengikuti ulasan berikut ini :
Bandingkan, sebagai contoh, bahwa saya bekerja untuk mempertahankan hal-hal ‘baik’ dalam kehidupan: makanan, prestise, kekuatan, dan juga ciuman hangat. Seolah saya dikendalikan dengan positif reinforcement. Ataukah memang benar, seperti yang diungkapkan nenek saya, saya sesungguhnya sedang bekerja untuk mencegah kelaparan, untuk lari dari ketidakpastian dan kondisi diabaikan, dan untuk menghindari kesendirian?
Isu ini tidak bisa dengan mudah dipecahkan, tapi saya lebih mungkin menjadi seorang yang bahagia bila peluang-peluang positive (positive contingencies) lebih mengendalikan tingkahlaku saya dibanding peluang-peluang yang tidak disukai (aversive contingencies) (berkaitan dengan konsekunsi respon/ response consequences). Sebenarnya apa yang disebut dengan avoidance learning[58] (belajar untuk menghindari situasi-situasi yang tidak menyenangkan) dan escape learning[59] ( belajar melarikan diri dari situasi-situasi yang tidak menyenangkan) merupakan diantara beberapa konsekuensi-konsekuensi yang paling penting dari aversive control. Seorang anak yang berlakuk baik di sekolah karena penghargaan orangtua dan guru mungkin sekali menyukai sekolah; anak satunya lagi yang berlaku melarikan diri dari kemarahan orangtua dan hukumanhukuman sekolah mungkin sekali memiliki reaksi-reaksi emosional yang sangat berbeda terhadap sekolahan, mungkin  menghindari sekolah yang tidak wajib, dan bahkan mungkin cenderung melarikan diri dari situasi tersebut.



[1] One-shot taste aversion learning: Keengganan yang kuat untuk memakan atau meminum substansi tertentu, diperolah setelah merasa enggan pada sebuah substansi setelah merasa sakit  berkaitan dengan substansi tersebut.Taste aversion (keengganan) mudah dipelajari, sangat bertentangan dengan pemusnahan, dan menunjukkan kecenderungan biologis.
[2] Learning: Perubahan-perubahan tingkah laku terjadi disebabkan pengalaman, bukan disebabkan motivasi, kepenatan, ataupun obat-obatan.
[3] Disposition: Sebuah kecenderungan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu; sebuah aspek dari motivasi.
[4] Capability: sebuah kemampuan/kecakapan untuk melakukan sesuatu. Untuk menjadi mampu/cakap memerlukan pengetahuan dan keahlian.
[5] Performance: tingkah laku actual. Kesimpulan bahwa belajar telah terjadi biasanya berdasarkan pada perubahan-perubahan dalam performance yang dapat diobservasi.
[6] Motor Learning : belajar yang melibatkan koordinasi otot dan kemampuan-kemampuan fisik. Seperti kegiatan berjalan kaki dan mengendarai mobil melibatkan motor learning.
[7] Affective learning : Perubahan-perubahan dalam tingkah laku atau emosi sebagai fungsi dari pengalaman.
[8] Cognitive learning: proses belajar yang focus utamanya pada perolehan informasi, pengembangan strategi guna pengolahan informasi, proses pembuatan keputusan, dan proses berpikir logis.
[9] Behaviorism: sebuah istilah umum untuk teori-teori belajat yang focus utamanya adalah komponen-komponen yang dapat diobservasi dari tingkah laku.
[10] Stimulus (j: stimuli) segala perubahan dalam lingkungan fisik yang mampu menggerakkan organ.
[11] Response: semua proses organic, muscular (berkaitan dengan otot), glandular (berkaitan dengan jaringan tubuh), atau proses fisik yang dihasilkan dari stimulation.
[12] Conditioning: sebuah tipe belajar yang dapat digambarkan berkaitan dengan perubahan hubungan-hubungan anatara stimuli, responses, atau antara atimuli dan respon-respon.
[13] Stimulus-responses (S-R) theory : sebuah teori belajar dengan penekanan utama pada stimuli dan respon-respon dan hubungan antara keduanaya. Teori-teori seperti ini disebut juga dengan teori-teori behavioristik.
[14] Cognitivism : teori-teori belajar yang focus utamanya berkaitan dengan topik-tpoik seperti persepsi, problem solving, pengolahan informasi, dan pemahaman.
[15] Metacognition : pengetahuan tentang mengetahui. Pada saat kita tumbuh dan belajar, kita mengembangkan strategi-strategi untuk mengenal batasan-batasan kita dan membimbing kita untuk memantau kemajuan kita dan untuk mengambil manfaat atas upaya-upaya kita.
[16] Classical conditiong juga dikenal dengan ‘leraning through stimulus substitution’ (belajar melalui penggantian stimulus) karena melibatkan dua pasang stimuli yang diulang. Selanjutnya sebuah stimulus netral (yang dibiasakan) mengakibatkan respon (respon yang dibiasakan/ conditioned response) yang sebelumnya diakibatkan oleh stimulus pertama (stimulus yang tidak dibiasakan/unconditioned stimulus). Tipe pembiasaan ini pertama kali dikenalkan oleh Pavlov.
[17] Associative leraning : sebuah tipe belajar yang sederhana dimana sebuah peristiwa dikaitkan dengan satu peristiwa lain karena pengalaman masa lalu. Baik classical maupun operant conditioning merupakan bentuk-bentuk dari associative learning.
[18] Conditioned stimulus: Sebuah stimulus yang pada awalnya tidak mengahsilkan respon apapun atau yang menghasilkan sesuatu yang umum, respo, yang berorientasi, sebagai sebuah fungsi pemasangan dengan sebuah unconditioned stimulus dan responnya, akan tetapi membutuhkan kemampuan dalam mengahasilkan respon yang sama. Contoh, sebuah stimulus yang pernah menghasilkan reaksi takut munsul secara sering, memungkinkan untuk menjadi conditioned stimulus bagi rasa takut.
[19] Unconditioned stimulus: Sebuah stimulus yang menghasilkan sebuah respon sebelum proses belajar berlangsung. Semua stimuli yang mampu mengahasilkan perilaku yang refleksif merupakan contoh-contoh dari unconditioned stimulus. Contoh, makanan merupakan sebuah unconditioned stimulus bagi respon pengeluaran air liur.
[20] Unconditioned response: Sebuah repon yang dihasilkan oleh sebuah unconditioned stimulus.
[21] Conditioned response: sebuah respon yang dihasilkan oleh sebuah conditioned stimulus. Pada beberapa kasus lain, sebuah conditioned response mirip, tapi tidak identic dengan unconditioned response yang lain.
[22] Neutral stimulus: sebuah stimulus yang pada awalnya tidak mengarah pada sebuah response yang dapat diprediksi. Contoh, neutral stimuli tidak dikaitkan dengan emotional responses sampai proses belajar terjadi.; dalam hal ini mereka diacukan sebagai conditioned stimuli ( tidak kepada neutral stimuli).
[23] Environmentalism: Keyakinan yang menyatakan bahwa akan menjadi apa nanti seorang anak itu lebih ditentukan oleh pengalaman (environmentalism) dari pada oleh pembawaan genetic.
[24] Direct instruction : sebuah frase yang digunakan untuk menggambarkan pendekatan langsung dari seorang guru untuk proses pengajaran—bertolak belakang dengan pendekatan student-centered seperti reciprocal teaching (pengajaran timbal balik) dan cooperative learning (seringkali digunakan dalam constructivism approaches).
[25] Constructivist approaches: sebutan umum untuk ‘ metode instruktusional yang menekankan learner-centered dan yang merefleksikan keyakinan bahawa informasi yang bermakna cenderung dikonstuksi oleh para siswa dari pada diberikan kepada mereka. Seringkali dilawankan dengan direct instruction, constructivist approaches direfleksikan dalam discovery learning, ranah cognitive (cognitive apprenticeship), dan humanistic approaches pada pengajaran.
[26] Connectivism: sebuah teori yang menjelaskan belajar sebagai formasi ‘bonds’/keterikatan (connections) antara stimuli dan respon-respon. Istilah ini dihubungkan pada Thorndike.
[27] Trial and error learning: penjelasan-penjelasan belajar Thorndikean yang didasarkan pada pendapat bahwa diposisikan dlam sebuah situasi masalah, seorang individu akan memancarkan sebuah variasi respon-respon tetapi pada akhirnya akan mempelajari satu respon yang tepat sebagai hasil dari reinforcement. Penjelasan-penjelasan Trial-and-error learning terkadang dilawankan dengan insight explanation.
[28] Insight: Persepsi dari hubungan-hubungan antar element-element dari sebuah situasi masalah. Sebuah metode problem-solving yang sangat bertolak belakang dengan trial and error.
[29]  Contiguity: Penghadiran segala sesuatu baik yang sifatnya simultan (terjadi pada waktu yang sama) maupun dalam space (area) yang sama. Contiguty seringkali digunakan untuk menjelaskan penghadiran classical conditioning. Simultaneity/keserentakan unconditioned dan cconditioned stimulus diasumsikan cukup untuk menjelaskan formasi kerikatan antara keduanya.
[30] Reinfocement: Dampak dari sebuah reinforcer, khususnya, untuk meningkatkan peluang sebuah respon akan muncul.
[31] Law of effect: hukum belajar Thorndikean yang menyatakan bahwa pengaruh sebuah respon mengarah untuk dipelajari (stamped in) atau tidak dipelajari (stamped out)
[32] Law of readiness: teori belajar Thorndikean yang mempertimbangkan bahwa tipe-tipe belajar tertentu itu sulit atau tidak mungkin berlaku kecuali jika siap. Dalam konteks ini, readiness mengacu pada factor-faktor tingkat kedewasaan, proses belajar sebelumnya, factor yang sifatnya memotivasi, dan karakteristik lain dari masing-masing individu yang berkaitan dengan belajar.
[33] Reward: sebuah obyek, stimulus, peristiwa, atau hasil yang dirasa sebagai sesuatu yang menyenangkan dan yang karena bisadipakai untuk memperkuat.
[34] Punishment: Melibatkan baik penghadiran stimulus yang tidak menyenangkan (presentation  of unpleasant stimulus) atau pun penarikan stimulus yang menyenagkan (withdrawal/removal of pleasant stimulus) sebagai sebuah konsekuensi dari perilaku. Punished berbeda dengan negative reinforcement.
[35] Law of exercise: hokum belajar Thorndikean yang menyatakan bahwa ‘bonds’/keterikatan’ (connections) menjadi semakin kuat bila semakin sering diulangi (exercised). Thorndike menolak hokum ini pada akhinya.
[36] Law of multiple responses: salah satu hokum-hukumnya Thorndike yang didasarkan pada observasinya dimana belajar melibatkan pemancaran beraneka respon (multiple responses) sampai salah satu respon (yang dianggap paling tepat) diperkuat. Karena hukum inilah maka salah satu teorinya Thorndike disebut teori trial and error learning.
[37] Law of set or attitude: Hukum, belajar Thorndikean yang menyatakanbahwa kita sering cenderung merespon dengan cara tertentu sebagai sebuah hasil dari pengalaman-pengalaman kitadan dari sikap-sikap yang pernah dipelajari sebelumnya. Hukum tambahan ini menyatakan adanya pengaruh budaya dan pengalaman dalam menentukan sikap kita dan, oleh karenanya,  juga dalam menentukan respon dalam situasi tertentu.
[38] Law of prepotency of elements: Hukum belajar Thorndikean yang menyatakan bahwa manusia cenderung merespon berbagai elemen yang paling menonjol (proponent) yang membentuk sebuah stimulus situation.
[39] Law of response by analogy: Hukum Thorndikean untuk menjelaskan ‘transfer’. Sebuah analogy biasanya berupa penjelasan, perbandingan, atau ilustrasi berdasarkan pada kemiripan. Dalam system Thorndikean, response by analogy mengacu pada respon-respon yang muncul karena kemiripan antara dua situasi.
[40] Transfer: istilah umum untuk aplikasi proses belajar yang lama (sudah pernah dialami) untuk sebuah situasi yang baru; ini disebut juga dengan ‘generalization’.
[41] Genelaization: pemindahan sebuah respon dari sebuah stimulus kepada sebuah stimulus yang serupa/mirip (stimulus generalization) atau pemindahan dari sebuah respon yang serupa/mirip pada sebuah respon lainnya dalam sebuah situasi tunggal (response generalization) Seorang anak yang merespon dengan ketakutan dalam sebuah situasi yang baru yang menyerupai sebuah situasi lama (yang pernah dialami anak tersebut) yang juga menghasilkan ketakutan, menunjukkan bukti stimulus generalization, yang disebut juga dengan ‘transfer’.
[42] Operant conditioning : sebuah tipe belajar yang melibatkan sebuah peningkatan peluang dimana respon dapat muncul sebagai sebuah fungsi dari ‘reinforcement’. Kebanyakan karya Skinner menelaah  prinsip-prinsip ‘operant conditioning’.
[43] Respondent: sebuah istilah yang digunakan Skinner untuk dilawankan dengan ‘operant’. Sebuah respondent merupakan sebuah respon yang dihasilkan dari stimulus yang tidak diketahui, yang spesifik. Unconditioned responses merupakan contoh-contoh dari respondents.
[44] Elicited respon : sebuah respon yang dihasilkan dari sebuah stimulus. Ekpresi ini sinonim dengan istilah ‘respondent’.
[45] Emitted response: sebuah respon yang tidak dihasilkan oleh sebuah stimulus tetapi semata-mata dipancarkan oleh organism. Pada dasarnya, emitted response merupakan operant.
Istilah Skninner –operant- diacukan sebagai: sebuah response tidak dihasilkan oleh stimulus yang diketahui dan stimulus yang jelas. Tingkah laku manusia yang paling siknifikan muncul sebagai operants (contoh menulis sebuah surat, berjalan-jalan).
[46] Skinner box: beraneka macam experimental environment yang dipakai Skinner untuk investigasi-investigasinya mengenai operant conditioning. . Biasanya Skinner box berupa struktur semacam kandang yang dilengkapi dengan sebuah pengungkit dan sebuah baki/nampan makanan yang dirancang dengan mekanisme tertentu. Kotak tersebut memungkinkan investigator untuk mempelajari operants(seperti penekanan sebuah benda) dan mempelajari hubungan antara sebuah operant dan reinforcement.
[47]  Descriminated stimulus(SD) : sebuah stimulus yang dirasakan oleh organism. Dalam opreant conditioning, discriminated stimulus ini menghasilkan respon. Disebut juga dengan deskriminative stimuli, mengacu pada aspek-aspek dari sebuah situasi (stimuli) yang membedakannya dari situasi lainnya.
[48] Experimental analysis of behaviour: Sebuah frase istilah yang biasanya dikaitkan dengan sistemnya Skinner. Istilah tersebut refleksikan penekanan Skinner pada analisa obyektif dari variable-variabel yang terlibat dalam perilaku—terutama, apa yang organism lakukan, lingkungan diman situasi tersebut muncul, dan konsekuensi-konsekuensi dari tindakan (apakah preilaku muncul kembali pada lingkungan yang serua)
[49] Reinforcer: sebuah stimulus yang mengakibatkan reinforcement
[50] Primary reinforcer : sebuah stimulus yang memperkuat ketidakhadiran kegiatan belajar. Stimuli semacam ini contohnya makanan dan minman merupakan primary reinforcer karena, rupanya, sebuah organism tidak perku belajar bahwa makanan dan minuman tadi menyenangkan.
[51] Generalized reinforcer: sebuah stimulus yang tidak menguat sebelum dipasangkan dengan sebuah primary reinforcer. Generalized reinforcers dihadirkan sedemikian sering pada saat renforcement dimana mereka menjadi penguat bagi beraneka macam aktivitas yang tidak terkait. Stimuli seperti prestos social, hadia, dan uang merupakan generalized reinforcers bagi perilaku manusia.
[52] Positive reinforcer : sebuah stimulus yang, pada saat ditambahkan pada sebuah situasi, menngkatakan peluang dimana sebuah respon akan muncul. Biasanya hal ini berbentuk sebuah pleasant stimulus (reward)
[53] Negative reinforcer : sebuah stimulus yang memiliki dampak meningkatnya peluang kemunculan respon-respon yang menyertainya. Negative reinforcement biasanya berbentuk unpleasant stimulus atau noxious stimulus yang dihilangkan/dicabut sebagai akibat dari sebuah respon tertentu.
[54] Presentation punishment : sebutan untuk jenis punishment yang dihasilkan dari penghadiran sebuah aversive stimulus (seperti sepatu  boot untuk musimsalju) yang diikuti sebuah prlaku. Disebut demikian karena melibatkan penghadiran sebuah aversive stimulus. Ini juga disebut dengan punishment tipe pertama.
[55] Removal punishment: Sebutan untuk jenis punishment yang dihasilkan dari pencabutan pleasant stimulus (seperti ijin untuk menonton TV) diikuti sebuah perilaku (penalty). Ini juga disebut punishment tipe kedua karena melibatkan pencabutan sebuah stimulus.
[56] Aversive control kendali tingkah laku manusia, biasanya melalui pemunculan noxious (umpleasant) stimuli, berlawanan denagn tehnik-tehnik positive control, yang secara umum menggunakan positive reinforcement.
[57] Positive control Kendali tingkah laku manusia, biasanya melalui pemunculan pleasant stimuli (stimulus-stimulus yang menyenagkan). Ini berlawanan dengan tehnik-tehnik aversive control, yang umumnya menggunakan negative reinforcement.
[58] Avoidance learning: sebuah conditioning phenomenon yang biasanya melibatkan aversive (unpleasant) stimulation. Organism belajar untuk mennghindari situasi-situasi yang dikaitkan dengan lingkungan tertentu yang tidak menyenangkan.
[59] Escape learning : sebuah conditioning phenomenon dimana organism belajar melarikan diri dari sebuah situasi, biasanya diikuti pemunculan aversive (unpleasant) stimulation.

0 komentar:

Poskan Komentar